Belakangan ini, istilah dolphin parenting semakin sering dibahas sebagai salah satu pola asuh modern. Namun, masih banyak orang tua yang belum memahami apa itu dolphin parenting.

Pola asuh ini disebut-sebut sebagai gabungan antara tiger parenting yang ketat dan jellyfish parenting yang terlalu lembut.

>>> China Evakuasi Ribuan Pelajar dengan Jembatan Apung Canggih

Dalam dolphin parenting, orang tua tetap memiliki aturan dan harapan yang jelas, tetapi juga memberi kebebasan kepada anak untuk belajar, mencoba hal baru, dan mengambil keputusan sesuai usia mereka.

Tujuan utama dolphin parenting bukan sekadar mengejar nilai akademik, melainkan membantu anak tumbuh menjadi pribadi yang mandiri, sehat secara emosional, dan mampu menghadapi tantangan hidup.

Apa Itu Dolphin Parenting?

Istilah dolphin parenting pertama kali diperkenalkan oleh psikiater Dr. Shimi Kang melalui bukunya The Dolphin Parent.

Ia menggunakan lumba-lumba sebagai simbol karena hewan ini dikenal cerdas, mudah beradaptasi, dan mampu bekerja sama dengan kelompoknya.

Dalam pola asuh ini, orang tua berperan sebagai pembimbing, bukan pengendali. Mereka memberikan arahan dan dukungan, tetapi tidak mengatur setiap aspek kehidupan anak.

Komunikasi terbuka sangat didorong sehingga anak merasa aman untuk menyampaikan pendapat maupun kesulitannya.

Situs Upworthy menambahkan bahwa dolphin parenting bertujuan menciptakan keseimbangan antara disiplin, kasih sayang, dan kebebasan.

Ciri-Ciri Dolphin Parenting

Ada beberapa karakteristik yang biasanya dimiliki orang tua dengan pola asuh ini.

Pertama, memiliki aturan yang jelas tetapi tetap fleksibel. Orang tua menetapkan batasan yang harus dipatuhi anak, namun tetap mempertimbangkan kondisi dan kebutuhan mereka.

Kedua, tidak terlalu mengontrol anak. Anak diberi kesempatan untuk mengeksplorasi minat, belajar dari pengalaman, dan menyelesaikan masalah sendiri.