China mengerahkan teknologi jembatan apung bertenaga atau powered pontoon bridge untuk mengevakuasi ribuan warga yang terjebak banjir di Guigang, Daerah Otonomi Etnis Zhuang Guangxi.

Banjir besar akibat hujan deras yang memecahkan rekor membuat ribuan pelajar dan staf pengajar terperangkap di kompleks pendidikan setempat.

>>> Kondisi Terkini Anak Krakatau Usai Erupsi Beruntun, Status Siaga

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Lin Jian mengunggah aksi jembatan apung tersebut di media sosial X pada Jumat (10/7).

Ia menyebut jembatan ponton bertenaga mandiri itu menjadi jalur penyelamatan terapung yang membantu mengevakuasi lebih dari 6.000 orang ke tempat aman.

Evakuasi Berlangsung Cepat

Banjir mendadak melanda kompleks pendidikan di Guigang pada Selasa (7/7) malam waktu setempat, menjebak lebih dari sepuluh ribu pelajar dan staf.

Tim penyelamat dari China Anneng Group tiba keesokan harinya dan menurunkan platform jembatan apung yang bisa dirakit hanya dalam waktu sekitar sepuluh menit.

Jembatan yang dijuluki "kapal induk penyelamat" ini terdiri dari gabungan dua unit kapal dan mampu menampung 300 hingga 400 orang dalam satu kali angkut.

Medan di dalam kompleks yang tergenang membuat evakuasi tidak mudah. Tim penyelamat harus menavigasi rintangan terendam, pepohonan, dan lorong sempit di antara gedung sekolah.

Kepala Departemen Penyelamatan Darurat Biro I China Anneng Group, Bian Fang, mengatakan tiga unit kapal diterjunkan karena medan yang kompleks dan sebagian area sangat sempit.

>>> Hasil FP2 Moto2 Jerman: Sempat Tembus 5 Besar, Mario Aji Finis ke-13

Rotasi tiga unit tersebut membuat operasi tetap lincah, aman, dan efisien.

Bagi ribuan orang yang terjebak, kedatangan tim penyelamat menjadi penanda harapan.