Kapal-kapal tanker gas alam cair (LNG) dan kapal komersial tetap melintasi Selat Hormuz meski baku tembak militer antara Iran dan Amerika Serikat (AS) kembali pecah.

Sejumlah kapal dagang juga diserang di jalur perairan strategis tersebut.

>>> Febrie Adriansyah dan DR Jadi Tersangka Kasus Batu Bara

Berdasarkan data pelacakan kapal, setidaknya lima kapal tanker LNG dalam kondisi kosong memasuki selat tersebut dalam beberapa hari terakhir.

Kapal-kapal itu meliputi GasLog Shanghai yang dioperasikan perusahaan pelayaran Yunani GasLog, serta empat kapal tanker terafiliasi QatarEnergy, yakni Al Samriya, Al Dafna, Al Gattara, dan Al Rayyan.

Pergerakan tersebut mengindikasikan sejumlah operator LNG tetap mengirim kembali kapal kosong ke Teluk Persia untuk memuat kargo baru, meski risiko keamanan meningkat.

Sementara itu, sebanyak 22 kapal terafiliasi Jepang keluar dari selat tersebut pada 7-9 Juli, termasuk enam kapal tanker minyak mentah berukuran besar.

Hal tersebut disampaikan Menteri Perhubungan Jepang Yasushi Kaneko dalam konferensi pers.

Perusahaan intelijen maritim Windward mencatat 35 lintasan kapal pada 8 Juli, terdiri dari 17 kapal masuk dan 18 kapal keluar.

Lalu lintas kapal masuk mencakup enam tanker, dua kapal curah, dan sembilan kapal kargo umum, sementara lalu lintas keluar meliputi lima tanker, lima kapal curah, dan delapan kapal kargo.

>>> Polisi Tahan DR, Pihak Swasta Rekan Febrie di Kasus Batu Bara

Mayoritas kapal menggunakan koridor utara yang lebih dekat ke wilayah Iran.

Windward mengatakan dari 35 kapal yang tercatat, 11 di antaranya beroperasi tanpa memancarkan sinyal Automatic Identification System (AIS) selama periode pemantauan.

Windward mencatat 861 kapal kargo dan tanker masih berada di Teluk Persia berdasarkan asesmen terbaru mereka, dengan 112 kapal di antaranya beroperasi tanpa sinyal AIS.