Batu nisan pertama langsung menyambut begitu melangkah melewati gerbang Museum Taman Prasasti di Jakarta Pusat.

Bukan satu atau dua, melainkan ratusan monumen yang menjulang tinggi atau sederhana, berbentuk menara, obelisk, gereja kecil, hingga alat musik.

>>> Alasan Kasus Eks Jampidsus Febrie Dilimpahkan ke Kejagung

Di sela-sela makam, pepohonan rindang membuat suasana teduh sekaligus sunyi.

Museum ini tidak memiliki ruang pamer tertutup; seluruh koleksinya berada di ruang terbuka, berdiri di atas bekas kompleks pemakaman elite Batavia.

Dengan tiket Rp10 ribu, pengunjung mendapat selebaran berisi peta dan informasi singkat. Tidak ada pemandu khusus, tetapi petugas siap menjawab pertanyaan.

Dari Pemakaman Elite Menjadi Museum

Sebuah prasasti marmer putih besar di pintu masuk mencatat bahwa kompleks ini dibangun pada 1795 sebagai pemakaman orang Eropa di Batavia.

Sekitar 1975, kawasan ini ditutup sebagai tempat pemakaman dan kemudian diresmikan menjadi Museum Taman Prasasti pada 9 Juli 1977.

Seorang pengelola menjelaskan bahwa sebelum menjadi museum, kawasan ini merupakan kompleks pemakaman seluas sekitar 5,5 hektare yang disebut Kebon Jahe Kober.

Kini luasnya tersisa sekitar 1,3 hektare dengan sekitar 900 monumen makam.

Belum jauh berjalan, sebuah patung perempuan menunduk dengan tangan seolah menutupi kesedihan menarik perhatian.

Patung The Crying Lady atau Lady in Mourning itu adalah simbol duka cita yang lazim dalam seni pemakaman Eropa kolonial.

Sebagian besar makam menggunakan marmer putih dengan pahatan rumit, masing-masing bergaya arsitektur berbeda yang menunjukkan status sosial, profesi, atau zamannya.

Monumen Mayor Jenderal J. J.

Perie berwarna hijau tua berbentuk menara tinggi, mudah dikenali dari kejauhan.

Tak jauh dari sana, monumen L. Launy berbentuk obelisk, makam seorang Direktur Jenderal Keuangan Hindia Belanda.