Sepuluh tahun setelah Perjanjian Paris 2015, emisi CO2 justru mencapai rekor tertinggi. Badan Energi Internasional (IEA) mencatat kadar CO2 atmosfer rata-rata 432,3 ppm pada Mei 2026.

Kegagalan 195 negara menekan emisi membuat suhu bumi terus naik. Dampaknya paling terasa di sektor pertanian yang tidak bisa pindah saat panas membakar lahan.

>>> Sam Phelan Jadi Executive Chef Deer Valley, Hormati Warisan Sambil Tambah Sentuhan Baru

Badan PBB memperingatkan bahwa panas ekstrem mendorong sistem pangan global ke ambang batas. Peringatan ini disampaikan UN News pada 22 April 2026 dan diperkuat oleh WMO.

Pemanasan global telah memasuki zona merah. Artinya, ketidakstabilan iklim semakin cepat dan memicu cuaca ekstrem serta gangguan parah pada ekosistem.

Panas Ekstrem sebagai Pengganda Risiko

Hasil panen mulai menurun saat suhu di atas 30°C. Tanaman melemah dan produktivitas berkurang.

Hewan ternak, terutama babi dan unggas, mengalami stres pada suhu lebih rendah.

Sumber pangan laut juga terdampak. Suhu laut yang naik menurunkan kadar oksigen dan mengancam biota laut.

Australian Marine Conservation Society melaporkan gelombang panas laut membunuh 30.000 ikan di pesisir WA pada Januari 2025.

Secara global, gelombang panas laut masif terjadi selama 500 hari. Beberapa ilmuwan menyebut situasi ini mengkhawatirkan.

Laporan PBB menyebutkan bahwa di Asia Selatan, Afrika sub-Sahara, dan Amerika Latin, jumlah hari terlalu panas untuk bekerja bisa mencapai 250 hari per tahun.

Prancis, Lumbung Pangan Uni Eropa, Terpukul

Gelombang panas awal musim panas menghancurkan pertanian Prancis. Menteri Pertanian Annie Genevard mengatakan pertanian dalam mode krisis.

Menurut Bloomberg News (2 Juli 2026), panas merusak hampir sepertiga jagung Prancis. Sekitar setengah produksi wortel, 60% hop, dan sebagian besar kebun buah juga hangus.