Suhu udara yang terus meningkat akibat perubahan iklim membuat penggunaan pendingin ruangan atau AC ikut melonjak.

Namun, para peneliti memperingatkan bahwa solusi ini justru dapat memperburuk masalah yang ingin diatasi.

>>> Potensi Dana Asing Rp4 Triliun Kabur, BEI Waspadai Dampak ke Pasar Modal

Penggunaan AC dalam jumlah besar meningkatkan konsumsi listrik dan berkontribusi terhadap emisi gas rumah kaca.

Di kawasan perkotaan, panas yang dilepaskan dari sistem pendingin juga memperparah fenomena pulau panas (urban heat island), di mana suhu kota lebih tinggi dibanding wilayah sekitarnya.

Teknologi Pendinginan Pasif sebagai Alternatif

Para ilmuwan mendorong penggunaan teknologi pendinginan pasif (passive cooling) sebagai langkah pertama untuk menjaga bangunan tetap sejuk tanpa bergantung pada listrik.

Dalam ulasan ilmiah di Nature Reviews Clean Technology, peneliti menyebut teknologi ini berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir.

Teknologi tersebut mencakup material yang memantulkan panas matahari, sistem pendinginan radiatif dan evaporatif, ventilasi pintar, serta desain bangunan yang mampu membuang panas secara alami.

Profesor Mat Santamouris dari UNSW Sydney mengatakan strategi terbaik adalah mencegah panas masuk ke dalam bangunan sejak awal.

>>> Indonet Resmikan Jalur Fiber Optik Bawah Tanah Ketiga Jakarta–Karawang

"Strategi pendinginan terbaik adalah menghentikan panas yang tidak diinginkan masuk ke dalam bangunan, misalnya melalui peneduh, material reflektif, ventilasi yang lebih pintar, dan material pendingin baru yang mampu menurunkan suhu tanpa perlu menyalakan AC," ujarnya.

Kebutuhan pendingin ruangan diperkirakan terus bertambah seiring meningkatnya suhu global. Peneliti memperkirakan jumlah AC di seluruh dunia bisa mencapai 5,6 miliar unit pada 2050.

Saat ini, konsumsi listrik untuk pendingin ruangan telah menyumbang hampir 10 persen dari penggunaan listrik global.

Kondisi ini dikhawatirkan semakin membebani sistem kelistrikan, terutama saat gelombang panas terjadi dan penggunaan AC meningkat bersamaan.

Profesor Santamouris bersama Dr. Konstantina Vasilakopoulou dari RMIT menilai pendinginan pasif tidak dimaksudkan menggantikan AC sepenuhnya.

>>> HUT ke-500 Jakarta, Pramono Anung Gratiskan Transportasi dan Wisata 5 Hari

Sebaliknya, teknologi ini sebaiknya menjadi lapisan pertahanan pertama, sementara AC digunakan ketika benar-benar diperlukan.