Bogor yang dikenal sebagai Kota Hujan dengan udara sejuk kini terasa lebih panas. Suhu siang hari mencapai 32-34 derajat Celsius dan hujan lebih jarang turun.

Givo Alsepan, dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi IPB University, mengatakan peningkatan suhu ini akibat kombinasi fenomena iklim global, pemanasan global, dan perubahan tutupan lahan karena urbanisasi.

>>> Aksi Heroik Kiper Norwegia, Tepis Penalti Brasil hingga Saves Vital

Pengaruh El Nino dan Perubahan Iklim

Secara klimatologis, suhu rata-rata Bogor berkisar 25,5-27 derajat Celsius. Namun, fenomena El Nino yang diprediksi berlangsung hingga akhir 2026 mengurangi tutupan awan dan meningkatkan radiasi matahari.

Givo menjelaskan bahwa El Nino hanya pemicu jangka pendek. Di balik itu, perubahan iklim global menyebabkan tren suhu terus meningkat sejak 1990.

"Perubahan iklim menjadi salah satu penyebab utama meningkatnya suhu di Bogor. Tanpa mitigasi serius, tren pemanasan akan berlanjut," ujarnya.

>>> Andi Widjajanto Bantah Terlibat Demo: Saya Sedang Makan di Bundaran HI

Urban Heat Island Memperparah

Berkurangnya ruang terbuka hijau dan meluasnya kawasan terbangun memicu fenomena urban heat island.

Penelitian Nurwanda dan Honjo (2018) menunjukkan perbedaan suhu urban-suburban meningkat dari 1,36°C (1990) menjadi 2,26°C (2017).

>>> IHSG Menguat ke 5.916 pada Awal Pekan

Givo menekankan pentingnya menjaga tutupan vegetasi sebagai strategi pembangunan kota untuk mengurangi dampak perubahan iklim lokal.