Tanah di Delta Sungai Ambruk Lebih Cepat dari Kenaikan Air Laut
Sebuah studi yang diterbitkan di jurnal Nature pada 14 Januari lalu mengungkap fakta mengejutkan: tanah di sejumlah delta sungai besar di dunia ambles lebih cepat daripada kenaikan permukaan air laut.
Fenomena ini terjadi di delta sungai Nil, Amazon, Gangga, dan masih banyak lagi.
>>> Viva Velvet Cushion: Harga Rp69 Ribuan di Shopee dengan SPF 50+
Peneliti menggunakan data radar dari satelit Sentinel-1 antara 2014 hingga 2023 untuk memantau perubahan elevasi tanah di 40 delta sungai utama.
Hasilnya, 18 dari 40 delta tersebut mengalami penurunan tanah rata-rata per tahun yang melebihi kenaikan permukaan laut global saat ini, yang diperkirakan sekitar 4 milimeter per tahun.
Bahkan, beberapa delta ambles hampir dua kali lipat dari angka tersebut.
Hampir Semua Delta Terdampak
Hampir setiap delta yang diteliti mengalami penurunan tanah lokal yang lebih cepat daripada kenaikan laut, kecuali delta Rio Grande.
Di 38 dari 40 delta, lebih dari separuh wilayahnya ambles selama periode studi.
Di 19 delta, termasuk Mississippi, Nil, dan Gangga-Brahmaputra, lebih dari 90 persen lahannya mengalami penurunan.
Delta yang paling parah terdampak berada di Thailand, Indonesia, dan China, dengan rata-rata penurunan tanah mendekati 8 milimeter per tahun.
>>> Aplikasi Aadhaar Kini Izinkan Pembaruan Email Gratis Selama 6 Bulan
Kombinasi tanah yang menyusut dan laut yang naik meningkatkan risiko banjir, erosi pantai, dan intrusi air asin.
Antara 350 hingga 500 juta orang tinggal di wilayah berisiko ini, termasuk sepuluh kota megapolitan dunia.
Penyebab utama amblesnya tanah adalah aktivitas manusia, terutama ekstraksi air tanah secara besar-besaran untuk pertanian, industri, dan pasokan kota.
Hal ini menyebabkan pemadatan tanah. Pertumbuhan kota yang cepat dan berkurangnya pasokan sedimen akibat bendungan juga memperparah kondisi.
Salah satu contohnya, di Delta Mississippi, hampir 5.000 kilometer persegi daratan telah hilang sejak 1932.
Manoochehr Shirzaei, salah satu penulis studi, mengatakan temuan ini menunjukkan jalan keluar: mengurangi ekstraksi air tanah, mengisi kembali akuifer, memulihkan pasokan sedimen, dan membatasi pembangunan infrastruktur besar di zona paling rentan.
>>> Citilink Berikan Hadiah Mobil Hybrid dan Tiket Gratis untuk Pelanggan Setia
Jika dikombinasikan dengan strategi adaptasi iklim, langkah-langkah ini bisa memperlambat fenomena yang mengancam wilayah pesisir.
Update Terbaru
Dari Nonton Maradona di TV Desa, Kini Bubista Pimpin Cape Verde Lawan Argentina
Jumat / 03-07-2026, 20:49 WIB
Cara Dapat Penghasilan Tambahan 100 Ribu per Hari Lewat Aplikasi Resmi 2026
Jumat / 03-07-2026, 20:49 WIB
Daftar 10 Paspor Terkuat di Dunia 2026, Indonesia Peringkat 119
Jumat / 03-07-2026, 20:49 WIB
Ibu-ibu PNM Mekaar Jadi Wajah Perempuan Berdaya di Sensus Ekonomi 2026
Jumat / 03-07-2026, 20:49 WIB
PM Pakistan dan Menlu Afghanistan Melayat Jenazah Ali Khamenei
Jumat / 03-07-2026, 20:46 WIB
Pendaftaran Beta Tertutup Ketiga Monster Hunter Outlanders Dibuka, Uji Coba 7 Agustus
Jumat / 03-07-2026, 20:46 WIB
Pokémon Scarlet & Violet Kembali Hadirkan Hisuian Typhlosion 7-Star Tera Raid
Jumat / 03-07-2026, 20:46 WIB
Xiaomi Luncurkan Empat Produk Redmi Baru: Tablet, TWS, Smartwatch, dan Headphone
Jumat / 03-07-2026, 20:43 WIB
Kemdagri Siapkan Sanksi untuk Bupati Purwakarta Usai Lagu Kontroversial
Jumat / 03-07-2026, 20:43 WIB
Cek Geliat Ekonomi, Purbaya Sebar Anak Buah ke Sejumlah Pasar
Jumat / 03-07-2026, 20:43 WIB
Disney Perbarui Dragon Striker untuk Musim Kedua, Tayang Awal 2027
Jumat / 03-07-2026, 20:42 WIB
Pabrik Cakram PlayStation Terbesar Sony Mulai Beralih ke Mikro Optik
Jumat / 03-07-2026, 20:42 WIB
Meccha Chameleon Jadi Game Terlaris 2026, Penjualan Tembus 12,6 Juta Kopi
Jumat / 03-07-2026, 20:42 WIB
Shuhei Yoshida Kritik Steam Machine: Mahal dan Kinerja Biasa Saja
Jumat / 03-07-2026, 20:42 WIB






