Antartika berubah lebih cepat dari perkiraan para ilmuwan. Temuan terbaru menunjukkan dampaknya terhadap iklim global bisa jauh lebih besar.

Pada September 2025, luas es laut Antartika mencapai level terendah ketiga dalam catatan sejarah. Angka ini hanya di belakang tahun 2024 dan 2023.

>>> Kulit Sensitif Boleh Pakai Cushion? Ini Tips Memilih dan Rekomendasi Produk yang Aman

Selama sebulan terakhir, suhu di kawasan itu bertahan lebih dari 25°C di atas normal. Kondisi ini memicu kekhawatiran baru di kalangan peneliti.

Hubungan Es Laut, Awan, dan Pemanasan Global

Tim ilmuwan dari European Geosciences Union (EGU) menemukan hubungan penting antara es laut Antartika, tutupan awan, dan pemanasan global.

Hubungan ini sebelumnya kurang diperhitungkan.

Saat ini, luas es laut Antartika berada 5,52 deviasi standar di bawah rata-rata harian periode 1991–2020.

Artinya, ada sekitar 2.030.000 kilometer persegi lebih sedikit es laut dari yang seharusnya.

Lautan menyerap lebih dari 90% kelebihan panas akibat perubahan iklim. Efek ini memperlambat kenaikan suhu atmosfer, tetapi memanaskan lautan.

Air yang lebih hangat memakan lebih banyak ruang, menaikkan permukaan laut. Hal ini juga memperkuat siklon tropis dan mengubah pola nutrisi yang memengaruhi stok ikan.

Penelitian EGU berfokus pada seberapa efisien lautan menyerap panas. Faktor seperti tutupan awan dan transportasi panas ke kedalaman laut juga berperan.

>>> Splatoon Raiders: Petualangan Single Player yang Menjanjikan

Penelitian sebelumnya menunjukkan sekitar 70% kelebihan panas sejak 1870 berakhir di Samudra Selatan. Model iklim memperkirakan angka itu bisa mencapai 85%.

Jika semua es Antartika mencair, permukaan laut global akan naik sekitar 70 meter. Antartika menyimpan 7 juta mil kubik es, menurut British Antarctic Survey.