Sejumlah negara Eropa hingga Amerika Serikat dilanda gelombang panas dalam beberapa waktu terakhir. Lantas, apakah Indonesia bisa mengalami fenomena serupa?

Sonni Setiawan, dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi FMIPA IPB University, mengatakan Indonesia juga berpotensi mengalami peningkatan kejadian suhu panas pada masa mendatang.

>>> Kapal Tanker Kena Hantam Proyektil di Dekat Selat Hormuz, Picu Kebakaran

Namun, karakteristiknya berbeda dengan gelombang panas di Eropa.

Menurutnya, suhu panas ekstrem di Indonesia lebih banyak dipicu oleh perubahan penggunaan lahan dan efek urban heat island yang umum terjadi di kawasan perkotaan.

"Indonesia berpeluang mengalami peningkatan suhu ekstrem, tetapi tidak seperti di Eropa.

Faktor yang lebih besar dominan adalah perubahan fungsi lahan sehingga wilayah-wilayah yang paling rentan adalah kota-kota besar," ujar Sonni, melansir laman resmi IPB, Kamis (2/7).

Adaptasi melalui Penghijauan

Sebagai langkah adaptasi, ia mendorong pemerintah dan masyarakat untuk memperkuat upaya penghijauan melalui reboisasi, penanaman pohon, serta pengendalian alih fungsi lahan.

Menurutnya, langkah tersebut penting untuk mengurangi suhu permukaan sekaligus memperkuat ketahanan lingkungan terhadap dampak perubahan iklim.

"Walaupun Indonesia tidak mengalami gelombang panas seperti di Eropa, adaptasi tetap perlu dilakukan melalui reboisasi, penanaman pohon, dan pengaturan alih fungsi lahan agar dampak peningkatan suhu dapat diminimalkan," tuturnya.

Penyebab Gelombang Panas di Eropa

Menurut Sonni, gelombang panas di Eropa tidak disebabkan oleh satu faktor saja.

>>> 11 Makanan Terbaik untuk Umur Panjang, Terbukti Ilmiah

Fenomena ini merupakan hasil interaksi antara pemanasan daratan yang luas pada musim panas dengan perambatan Gelombang Rossby di atmosfer lintang menengah.

Ia menerangkan, Gelombang Rossby merupakan gangguan atmosfer berskala besar yang memengaruhi pola tekanan udara, angin, dan suhu di wilayah lintang menengah.