Industri financial technology (fintech) di Indonesia dinilai telah memasuki fase yang lebih matang.

Ketua Dewan Kehormatan Asosiasi Fintech Indonesia (AFTECH), Harun Reksodiputro, menyatakan bahwa sektor ini masih menjadi salah satu yang paling banyak menarik investasi di tanah air.

>>> Prabowo Ungkap Pesan ke Singapura: Kemakmuran Butuh Perdamaian

Menurut Harun, indikator keberhasilan industri fintech saat ini tidak lagi diukur dari banyaknya startup yang bermunculan.

Melainkan dari kemampuan perusahaan untuk bertahan, memperoleh kepercayaan masyarakat, serta memberikan dampak nyata bagi perekonomian.

"Fintech tetap menjadi sektor yang paling banyak menarik investasi startup di Indonesia," kata Harun dalam Indonesia Digital Bank Summit 2026 di Jakarta, Selasa (7/7/2026).

Ia menekankan bahwa keberhasilan fintech hari ini diukur dari berapa banyak institusi yang mampu bertahan, bukan dari jumlah startup yang lahir.

Satu dekade lalu, perusahaan rintisan masih berfokus mencari kecocokan produk dengan pasar (product-market fit), namun kini semakin banyak yang memiliki fundamental bisnis lebih kuat.

>>> Industri Halal Jadi Andalan, Kemenperin Incar Pasar Global USD 3,56 Triliun

Ancaman Fraud dan AI Mengintai

Kendati demikian, Harun mengingatkan bahwa industri fintech juga menghadapi tanggung jawab yang semakin besar.

Seiring meningkatnya keterhubungan layanan keuangan digital dengan aktivitas masyarakat, ancaman seperti penipuan (fraud), scam, kejahatan siber, hingga penyalahgunaan kecerdasan buatan (AI) juga semakin meningkat.

"Walaupun semakin besar peluangnya, semakin besar pula tanggung jawabnya," katanya.

Oleh karena itu, persaingan industri ke depan tidak lagi hanya soal menghadirkan inovasi tercepat, tetapi bagaimana perusahaan mampu menjaga kepercayaan konsumen.

>>> Era Pesta Pora Anggaran MBG Berakhir, Pemangkasan Capai Ratusan Triliun

"Perlombaan berikutnya adalah siapa yang paling mampu mempertahankan kepercayaan konsumen," tutup Harun.