Dampak Anak Terlalu Dikekang, Bisa Terbawa hingga Dewasa
Setiap orang tua tentu menginginkan yang terbaik bagi anak-anaknya. Keinginan untuk melindungi, mendisiplinkan, dan mengarahkan anak agar sukses sering kali mendorong penerapan aturan ketat di rumah.
Namun, ketika kontrol yang diberikan terlalu besar dan ruang untuk berpendapat, bereksplorasi, atau mengekspresikan perasaan menjadi sangat terbatas, dampaknya bisa bertahan hingga anak beranjak dewasa.
>>> Messi Gagal Penalti Beruntun, Perlukah Argentina Ganti Eksekutor?
Dalam psikologi perkembangan, pola asuh yang terlalu ketat atau mengekang dikenal sebagai authoritarian parenting.
Pola asuh ini ditandai dengan kontrol tinggi, tuntutan besar, namun minim kehangatan emosional dan komunikasi dua arah.
Psikolog perkembangan Diana Baumrind mengelompokkan gaya pengasuhan ini sebagai yang mengutamakan kepatuhan mutlak. Anak dituntut mengikuti aturan tanpa banyak ruang bertanya atau berdiskusi.
Para ahli menegaskan bahwa disiplin bukanlah hal buruk. Struktur dan aturan justru penting untuk pertumbuhan anak yang sehat.
Masalah muncul ketika kontrol lebih dominan dibandingkan dukungan emosional dan rasa aman.
Dampak Psikologis yang Muncul
Anak yang tumbuh di bawah pengawasan dan kritik berlebihan cenderung meragukan kemampuan diri sendiri. Mereka terbiasa mengandalkan penilaian orang tua sehingga kesulitan mempercayai keputusan sendiri.
Penelitian menemukan bahwa anak dari orang tua otoriter memiliki tingkat harga diri lebih rendah dibandingkan anak yang dibesarkan dengan pola asuh hangat dan suportif.
Saat dewasa, kondisi ini bisa muncul sebagai rasa tidak percaya diri, takut mencoba hal baru, atau selalu butuh validasi.
Banyak anak yang dibesarkan dengan aturan sangat ketat tumbuh menjadi perfeksionis. Mereka merasa kesalahan harus dihindari karena sering dikaitkan dengan hukuman atau kritik.
Akibatnya, kesalahan kecil pun bisa memicu kecemasan berlebihan.
Update Terbaru
Review Acer Nitro 18 AI: Layar Besar, Harga Terjangkau, Performa Terbatas
Rabu / 08-07-2026, 21:15 WIB
Nintendo Akan Terus Jual Switch 1 di Luar Eropa hingga 2027
Rabu / 08-07-2026, 21:15 WIB
Kunjungan Perdana Raja Charles ke Isle of Man, Akan Berpidato di Parlemen
Rabu / 08-07-2026, 21:15 WIB
Drone Ukraina Serang Tiga Kilang Minyak Canggih Rusia
Rabu / 08-07-2026, 21:14 WIB
19 Pemain Terancam Absen di Semifinal Piala Dunia 2026 Jika Kena Kartu Kuning Lagi
Rabu / 08-07-2026, 21:14 WIB
BPOM Dukung Pengembangan Vaksin mRNA DBD Pertama di Dunia
Rabu / 08-07-2026, 21:14 WIB
Kata-kata Terakhir Pilot Boeing 737 Sebelum Hilang Kontak di Laut Arab
Rabu / 08-07-2026, 21:14 WIB
Brabus Kini Garap Kapal Pesiar Mewah Lewat Kolaborasi dengan AB Yachts
Rabu / 08-07-2026, 21:13 WIB
9 Hari Tak Kunjung Padam, Petugas Doa Bersama di TPA Jatiwaringin
Rabu / 08-07-2026, 21:13 WIB
Wamenaker Dorong Gen Z Wirausaha: Jangan Hanya Bergantung Lowongan
Rabu / 08-07-2026, 21:13 WIB
Trump: AS Akan Serang Iran Malam Ini Setelah Batalkan MoU Damai
Rabu / 08-07-2026, 21:08 WIB
Anggota Parlemen Uni Eropa Desak Komite Etik FIFA Selidiki Infantino
Rabu / 08-07-2026, 21:08 WIB
Polisi Gelar Sayembara Rp20 Juta Tangkap Erlan Kasus Sekdin Bangkalan
Rabu / 08-07-2026, 21:08 WIB
Netflix Siap Bersaing dengan Disney dan YouTube untuk Hak Siar Piala Dunia FIFA di AS
Rabu / 08-07-2026, 21:07 WIB







