Setiap orang tua pasti ingin memberikan yang terbaik bagi anaknya. Namun, ketika hampir seluruh waktu dan perhatian tercurah untuk anak, pola asuh ini disebut intensive parenting.

Pola asuh ini terdengar ideal karena menunjukkan besarnya kasih sayang. Di sisi lain, keterlibatan berlebihan bisa menimbulkan tekanan bagi orang tua maupun anak.

>>> Kylian Mbappe Geser Lionel Messi dari Puncak Top Skor Piala Dunia 2026

Apa Itu Intensive Parenting?

Mengutip The Bump, intensive parenting adalah pola asuh di mana orang tua terlibat secara intens dalam hampir semua aspek kehidupan anak.

Orang tua mencurahkan banyak waktu, tenaga, perhatian, dan biaya untuk memastikan anak mendapat kesempatan terbaik, mulai dari pendidikan hingga pengembangan bakat.

Jadwal keluarga sering kali disusun berdasarkan kebutuhan anak. Orang tua juga aktif memantau perkembangan akademik, kegiatan ekstrakurikuler, dan kehidupan sosial anak.

Tujuan utamanya adalah membantu anak tumbuh sukses. Namun, jika berlebihan, intensive parenting bisa membuat orang tua kelelahan dan mengurangi kemandirian anak.

Manfaat Intensive Parenting

Jika diterapkan seimbang, intensive parenting dapat mempererat hubungan emosional orang tua dan anak karena lebih banyak waktu bersama.

Orang tua juga lebih memahami kebutuhan, minat, dan kesulitan anak sehingga bisa memberikan dukungan yang tepat.

Keterlibatan aktif dapat meningkatkan prestasi akademik, menumbuhkan kedisiplinan, dan mendorong anak mengembangkan kemampuan sesuai minatnya.

Anak pun cenderung mendapat dukungan emosional yang lebih baik karena orang tua hadir saat mereka menghadapi tantangan.

>>> Bos Agrinas Buka Suara soal Keluhan Gaji Pengelola Kopdes Merah Putih

Risiko Intensive Parenting

Di balik manfaatnya, intensive parenting berlebihan memiliki risiko. Anak bisa merasa terbebani oleh ekspektasi tinggi orang tua.