Kepala Instagram Adam Mosseri menyebut lonjakan konten buatan AI justru berpotensi meningkatkan nilai kreator manusia. Pernyataan ini muncul di tengah kekhawatiran industri kreator terhadap gempuran konten sintetis.

"Di dunia yang dibanjiri konten sintetis, saya justru berpikir orang akan makin mencari kreativitas, autentisitas, dan sosok manusia—bukan makin sedikit," kata Mosseri dalam podcast Lenny Rachitsky yang tayang pada Kamis (9/7), dikutip dari Business Insider.

>>> Sheikh Hamad Wafat, Pemimpin Qatar yang Pernah Setop Blokade Israel di Gaza

Mosseri, yang menjabat Kepala Instagram di bawah Meta sejak 2018, menyebut platformnya telah lama berinvestasi pada kreator.

Menurutnya, pengguna peduli terhadap sosok di balik konten, bukan sekadar kontennya semata.

Ia menambahkan bahwa Instagram sejak awal tidak hanya soal konten, melainkan juga soal sosok di baliknya, sudut pandang, dan alasan mereka membagikan sesuatu.

Faktor-faktor tersebut justru akan makin penting di tengah membanjirnya konten buatan AI.

Pernyataan Mosseri muncul saat industri kreator tengah bergulat dengan menjamurnya influencer buatan AI, model virtual, dan video sintetis.

Sejumlah kreator mengkhawatirkan teknologi ini dapat mengancam mata pencaharian mereka, seiring merek-merek mulai bereksperimen dengan sosok digital yang tak butuh gaji, cuti, bahkan tidur.

Meski begitu, Mosseri secara konsisten menyebut AI pada akhirnya akan meningkatkan nilai konten manusia yang otentik.

>>> Jadi Tersangka, Eks Jampidsus Febrie Adriansyah Masih Berstatus ASN

Pada Desember lalu, ia sempat menyebut AI telah "membunuh" estetika citra di Instagram, karena gambar yang terlalu sempurna kini dianggap murah diproduksi dan membosankan.

Di sisi lain, Mosseri mengatakan AI akan menjadi faktor pendorong positif bagi Instagram, meski ia mengakui hal itu turut membawa tantangan.

Alih-alih membatasi unggahan hasil AI, Mosseri menyebut Instagram sebaiknya berfokus membantu pengguna memahami jenis konten yang mereka lihat.

"Saya rasa kami tidak perlu menyaring konten AI. Menurut saya, kami cukup memberi tahu apakah suatu konten dibuat AI atau tidak," ujarnya.

Ia menekankan konten semestinya dinilai dari kualitas dan sosok di baliknya, bukan dari alat yang dipakai untuk membuatnya.

Mosseri menambahkan, Instagram ke depan perlu lebih baik dalam membedakan konten AI berkualitas tinggi dari yang berkualitas rendah.

>>> Sorloth Beber Alasan Tak Oper Haaland hingga Ancaman Pembunuhan

Namun, ia meyakini keunggulan jangka panjang platform tetap terletak pada kemampuannya menghubungkan orang dengan orang lain.