Ekonom Amerika Serikat, Steve Hanke, mengkritik kebijakan Presiden Donald Trump yang dinilainya memulai perang pilihan (war of choice) terhadap Iran.

Menurut Hanke, konflik tersebut akan menjadi beban besar bagi rakyat Amerika karena membutuhkan biaya yang sangat mahal.

>>> Jokowi Blusukan Politik Lagi Demi PSI, Feri Amsari: Sah, Cuma Gak Tahu Diri Aja

"Trump memulai perang pilihan terhadap Iran.

Itu akan membuat pembayar pajak AS menanggung biaya yang sangat besar," tulisnya di akun X pribadinya, dikutip Senin (29/6).

Profesor Ekonomi Terapan dari Johns Hopkins University itu menambahkan, Trump meminta tambahan dana sebesar 70 miliar dolar AS kepada Kongres untuk membeli kembali persenjataan.

Ia memprediksi total biaya perang tersebut bisa melampaui 1 triliun dolar AS atau setara dengan Rp17,84 kuadriliun (kurs Rp17.842,50 per dolar AS) setelah semuanya selesai.

>>> 5 Peserta Tewas, Menteri HAM Desak Evaluasi Total Latsarmil Kopdes

"Ketika semua selesai, saya memprediksi biaya perang pemerintah AS terhadap Iran akan melampaui 1 triliun dolar AS," tandasnya.

Anggaran Darurat untuk Pentagon

Pemerintahan Trump mengajukan permintaan anggaran darurat (supplemental funding) sebesar 87,6 miliar dolar AS (sekitar Rp1.574 triliun) kepada Kongres.

Anggaran ini diajukan menyusul menipisnya stok persenjataan strategis nasional akibat konflik militer di Timur Tengah.

Dari total tersebut, sekitar 67,15 miliar dolar AS dialokasikan khusus untuk Departemen Pertahanan (Pentagon).

>>> Teks Khutbah Jumat 3 Juli 2026: Mendidik Anak dengan Keteladanan, Jalan Islam Membangun Keluarga yang Penuh Kasih

Dana itu digunakan untuk membiayai operasional pasukan, menjaga kesiapan tempur, serta mengisi kembali persediaan senjata dan amunisi bernilai tinggi yang terkuras, termasuk rudal jelajah Tomahawk.