Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul menegaskan bahwa kejujuran menjadi faktor utama dalam proses penjangkauan calon siswa Sekolah Rakyat.

Kejujuran diperlukan dari petugas maupun keluarga yang dijangkau.

>>> Truk Tabrak Sejumlah Motor di Bekasi, 1 Tewas dan 5 Luka-luka

Pernyataan itu disampaikan Gus Ipul saat menghadiri Open House Sekolah Rakyat untuk Orang Tua dan Calon Siswa di SRMA 7 Palembang, Minggu (28/6).

Acara ini bertujuan memperkenalkan perkembangan pembelajaran yang telah berjalan hampir satu tahun.

"Program ini harus dimulai dengan kejujuran dan keterbukaan. Tidak ada pendaftaran, yang ada adalah penjangkauan.

Keluarga-keluarga yang memenuhi kriteria di dalam DTSEN dijangkau oleh petugas baru ditetapkan menjadi siswa Sekolah Rakyat," kata Gus Ipul.

Ia juga menekankan kejujuran dalam pengelolaan Sekolah Rakyat agar tidak terjadi penyelewengan.

"Tidak boleh ada korupsi, sogok-menyogok, ataupun tindakan yang tidak terpuji karena program ini diperuntukkan bagi mereka yang selama ini terpinggirkan," lanjutnya.

Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti menyampaikan hal serupa. Menurutnya, keberhasilan Sekolah Rakyat menunjukkan bahwa statistik mampu memberikan makna bagi anak-anak.

Sebagian besar siswa berasal dari keluarga desil 1 dan 2 DTSEN. Hal ini menjadi umpan balik bagi BPS dalam penyempurnaan akurasi data.

"Statistik ternyata bukan sekadar angka, tetapi statistik bisa memberikan makna yang luar biasa bagi anak-anak kita di Sekolah Rakyat.

Statistik bisa memberikan dampak sehingga mereka memiliki mimpi-mimpi untuk masa depan mereka," ujar Amalia.

Saat ini, terdapat lima Sekolah Rakyat rintisan di Sumatera Selatan, yaitu SRMA 7 Palembang, SRT 31 Palembang, SRMA 8 Ogan Ilir, SRT 15 Empat Lawang, dan SRMA 45 Ogan Komering Ulu.