Mendidik anak bukan hanya tentang memberikan nasihat atau memenuhi kebutuhan materi. Dalam ajaran Islam, pendidikan dimulai dari sikap dan perilaku orang tua yang setiap hari disaksikan oleh anak-anaknya. Karena itu, keteladanan menjadi fondasi utama dalam membangun karakter generasi yang beriman, berakhlak, dan bertanggung jawab. Tema tersebut menjadi pesan utama dalam Khutbah Jumat edisi 3 Juli 2026 yang mengangkat judul **"Mendidik dengan Teladan, Bukan Teriakan."** Materi khutbah ini hadir berdekatan dengan momentum Hari Keluarga Nasional yang diperingati setiap 29 Juni, sehingga mengajak umat Islam kembali menempatkan keluarga sebagai pusat pendidikan pertama bagi anak.

>>> PSI: Ritual Injak Kepala Kerbau Bukan Kemauan Jokowi

Keluarga Menjadi Sekolah Pertama dalam Kehidupan Anak

Rumah merupakan tempat pertama seorang anak mengenal berbagai nilai kehidupan. Sebelum memahami pelajaran di sekolah, anak lebih dahulu belajar melalui kebiasaan yang ia lihat setiap hari di lingkungan keluarganya. Di dalam keluarga, anak mulai mengenal siapa Tuhannya, bagaimana menghormati orang lain, memahami kejujuran, belajar meminta maaf, hingga mengetahui cara menghadapi perbedaan. Semua pengalaman tersebut terbentuk bukan semata-mata melalui nasihat, melainkan dari contoh nyata yang diberikan orang tua. Karena itu, kualitas pendidikan dalam keluarga tidak hanya diukur dari keberhasilan memenuhi kebutuhan ekonomi ataupun menyediakan fasilitas belajar, tetapi juga dari bagaimana orang tua mampu menghadirkan suasana rumah yang penuh kasih, aman, dan menenangkan.

Rasulullah SAW Menjadikan Keluarga sebagai Tolok Ukur Akhlak

Dalam khutbah tersebut disampaikan hadis Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi: "**Sebaik-baik kalian adalah orang yang paling baik terhadap keluarganya, dan aku adalah orang yang paling baik kepada keluargaku.**" Hadis tersebut menunjukkan bahwa ukuran kemuliaan seseorang tidak hanya terlihat ketika berada di tengah masyarakat, tetapi justru saat berada di lingkungan keluarga. Tidak sedikit orang mampu bersikap lembut kepada orang lain, namun kehilangan kesabaran ketika berhadapan dengan pasangan ataupun anak-anaknya. Padahal, rumah merupakan tempat pertama akhlak seseorang benar-benar diuji. Cara berbicara kepada keluarga, kemampuan mengendalikan emosi, serta kesediaan memberikan teladan menjadi cerminan kualitas keimanan yang sesungguhnya.