Perintah Menjaga Keluarga Tidak Hanya Bersifat Materi

Allah SWT berfirman dalam Surah At-Tahrim ayat 6: "Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu." Dalam penjelasan para ulama tafsir, ayat tersebut mengandung kewajiban bagi setiap orang tua untuk mendidik anggota keluarganya menuju ketaatan kepada Allah SWT. Makna menjaga keluarga tidak berhenti pada pemenuhan kebutuhan sandang, pangan, dan pendidikan formal. Orang tua juga memikul tanggung jawab membimbing anak agar memiliki akidah yang kuat, akhlak yang baik, serta kebiasaan beribadah yang benar. Nilai-nilai tersebut tidak akan tumbuh apabila orang tua hanya mengandalkan perintah tanpa memberikan contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Keteladanan Lebih Efektif Dibanding Kemarahan

Khutbah ini juga mengingatkan tentang fenomena pola pengasuhan yang keras atau sering disebut sebagai *toxic parenting*. Kondisi tersebut muncul ketika orang tua berniat mendidik anak, namun menggunakan cara yang justru melukai perasaan mereka. Bentakan, hinaan, membanding-bandingkan anak dengan orang lain, hingga mempermalukan kesalahan anak sering dianggap sebagai bagian dari proses pendidikan. Padahal, tindakan tersebut dapat meninggalkan luka psikologis yang berlangsung dalam waktu lama. Kajian psikologi modern yang dipublikasikan dalam jurnal *Child Development* pada 2014 juga menunjukkan bahwa disiplin verbal yang keras berkaitan dengan meningkatnya risiko munculnya masalah perilaku dan gejala depresi pada remaja. Temuan tersebut memperkuat ajaran Islam yang sejak awal mengedepankan kelembutan sebagai metode pendidikan.

Rasulullah SAW Memberikan Contoh Pendidikan yang Penuh Kasih Sayang

Salah satu teladan terbaik dapat ditemukan dalam kisah sahabat Anas bin Malik RA yang selama sepuluh tahun mendampingi Rasulullah SAW. Anas menceritakan bahwa selama melayani Rasulullah, beliau tidak pernah mengucapkan kata-kata kasar maupun mencela kesalahan yang dilakukan. Keteladanan tersebut memperlihatkan bahwa seorang pendidik tidak harus menggunakan kekerasan untuk menanamkan nilai-nilai kebaikan. Sebaliknya, kelembutan justru membuat hubungan antara pendidik dan anak menjadi lebih dekat sehingga nasihat lebih mudah diterima.