Langkah Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) yang kembali aktif melakukan safari politik bersama Partai Solidaritas Indonesia (PSI) di Lampung menuai kritik dari pakar hukum tata negara.

Peneliti Pusat Studi Konstitusi (Pusako) Universitas Andalas, Feri Amsari, menilai aktivitas politik tersebut sah secara hukum, namun tidak patut dari sisi etika kenegaraan.

>>> 5 Peserta Tewas, Menteri HAM Desak Evaluasi Total Latsarmil Kopdes

Feri menilai keputusan Jokowi kembali terjun ke panggung politik praktis bertolak belakang dengan pernyataannya seusai mengakhiri masa jabatan sebagai presiden.

Saat itu Jokowi menyebut ingin beristirahat dan menjadi warga negara biasa.

"Ya sah, cuma gak tahu diri aja. Katanya mau istirahat, tapi malah kemudian terjun ke ruang politik.

Harusnya dia sudah masuk ke fase berwibawa sebagai, ya katakanlah pilihannya sebagai guru bangsa," ujar Feri Amsari kepada media.

Feri mempertanyakan konsistensi antara pernyataan dan tindakan Jokowi.

Menurutnya, alih-alih mengambil peran sebagai tokoh bangsa di luar politik praktis, Jokowi justru menjadi bagian dari aktivitas politik PSI yang kini dipimpin putra bungsunya, Kaesang Pangarep.

"Ada pertanyaan besar sebenarnya soal kejujuran Jokowi dari pernyataan sebelumnya dengan apa yang dia lakukan sekarang.

Dia menyatakan akan istirahat, akan pulang kampung, menjadi warga negara biasa, ternyata kemudian menjadi mesin politik partai tertentu, yaitu partai anaknya," kata Feri.

>>> Teks Khutbah Jumat 3 Juli 2026: Mendidik Anak dengan Keteladanan, Jalan Islam Membangun Keluarga yang Penuh Kasih

Ia menegaskan bahwa tidak ada aturan yang melarang mantan presiden untuk kembali berpolitik.

Namun, dari sisi kepatutan publik, langkah tersebut dinilai kurang tepat.

"Patut tidak patut? Tentu tidak patut.

Kan orang harusnya jujur dengan perkataannya dari awal. Nah, perkataan Jokowi itu yang selalu berbeda-beda," tambahnya.

Feri juga menilai safari politik Jokowi bersama PSI memiliki dua tujuan utama.

Pertama, membantu PSI memperoleh dukungan yang cukup agar dapat lolos ke DPR pada pemilu mendatang.

Kedua, menunjukkan bahwa pengaruh politik Jokowi masih kuat di tengah pemerintahan baru.

"Dia safari sedari dini karena ingin mengatakan sanggup memperjuangkan partai ini agar dapat angka-angka yang layak untuk masuk parlemen.

>>> PSI: Ritual Injak Kepala Kerbau Bukan Kemauan Jokowi

Sekaligus mau kasih tahu berbagai pihak, termasuk ke Presiden Prabowo, bahwa dia masih bekerja. Dan fokusnya tentu untuk anak sendiri," pungkas Feri.