Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan bergerak bervariasi dengan kecenderungan penguatan terbatas pada perdagangan awal pekan, Senin (22/6/2026) di Bursa Efek Indonesia.

Pelaku pasar saat ini mencermati tarik-menarik antara sentimen makroekonomi global dan momentum korporasi domestik.

in1

>>> Dirjen Pajak Akui MBG dan Kopdes Merah Putih Berpotensi Kurangi Penerimaan Negara

Ketidakpastian geopolitik AS-Iran dan penguatan indeks dolar AS menjadi faktor eksternal yang membayangi pergerakan IHSG.

Rencana penandatanganan kesepakatan damai AS-Iran di Swiss dikabarkan tertunda, memicu kecemasan akan stabilitas kawasan Timur Tengah dan potensi penutupan Selat Hormuz.

Di sisi lain, indeks dolar AS (DXY) melambung ke level tertinggi dalam setahun terakhir, yang secara historis memicu capital outflow dari pasar negara berkembang seperti Indonesia.

Sentimen Domestik dan Rekomendasi Saham

Meskipun dihantam sentimen negatif, pasar domestik memiliki daya tarik penyeimbang berupa periode ex-date dividen dengan imbal hasil tinggi dari sejumlah emiten.

>>> Bupati Natuna: Sekolah Satu Atap solusi pemerataan pendidikan di daerah terpencil

Fenomena ini biasanya memicu aksi beli investor lokal yang mengincar pendapatan pasif dari pembagian laba perusahaan.

VP Equity Retail Kiwoom Sekuritas Indonesia, Oktavianus Audi, menyebutkan bahwa indikator MACD masih menunjukkan penguatan tren, namun RSI cenderung melemah.

"Kami memperkirakan IHSG bergerak mixed cenderung menguat terbatas dalam rentang support 6.000 dan resistance 6.260," ujar Audi dalam keterangan resmi.

>>> YLKI Dukung Pembangunan PLTS 100 GW untuk Diversifikasi Energi

Ia menekankan pentingnya memantau berita internasional secara real-time karena sensitivitas bursa terhadap isu geopolitik saat ini tinggi.