Kebijakan suku bunga tinggi Federal Reserve (The Fed) menekan tren harga emas global. Investor mulai beralih ke aset berimbal hasil tinggi.

Pelemahan harga emas diperparah oleh berkurangnya ketidakpastian geopolitik global. Hal ini mengikis fungsi logam mulia sebagai instrumen lindung nilai utama.

in1

>>> Pembiayaan Komersial Bank Mega Syariah Tumbuh 13,22 Persen

Berdasarkan data Trading Economics yang dilansir dari Investasi, harga emas berada di angka US$ 4.151 per ons troi.

Sebelumnya, emas sempat mencetak rekor tertinggi di atas US$ 5.423 per ons troi pada akhir Januari lalu.

Faktor Dominan Penekan Harga Emas

Analis Wahyu mengatakan sikap hawkish The Fed menjadi faktor paling dominan menekan harga emas dan perak saat ini.

Meredanya ketegangan geopolitik hanya menjadi faktor tambahan yang mengurangi daya tarik emas sebagai lindung nilai.

>>> Vera Wang Pukau Publik dengan Gaya Berani di Fragrance Foundation Awards

Penurunan harga emas diproyeksikan masih berlanjut dalam jangka pendek hingga menengah. Penyebabnya adalah penguatan indeks dolar AS.

Saat ini, pergerakan harga emas sedang menguji area support krusial pada level US$ 4.097 per ons troi.

Jika batas tersebut ditembus, ada risiko harga merosot ke bawah US$ 4.000.

Sementara itu, fluktuasi emas Antam diperkirakan stabil dengan kecenderungan menguat terbatas. Rentang harga diprediksi Rp 2.600.000 hingga Rp 3.300.000 per gram pada kuartal III-2026.

>>> PTPN Genjot Kesehatan Karyawan demi SDM Produktif

Perkembangan nilai aset ke depan akan dipengaruhi oleh data inflasi, kondisi ketenagakerjaan AS, pergerakan indeks dolar AS (DXY), serta imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun.