Harga emas spot dunia mengalami pelemahan sebesar 1,66 persen dalam sepekan hingga menyentuh level US$ 4.151 per ons troi pada Jumat (19/6/2026).

Penurunan nilai logam mulia ini dipicu oleh kebijakan moneter ketat atau hawkish dari bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve.

in1

>>> MRT Jakarta Berlakukan Tarif Rp1 pada 22, 27, dan 28 Juni

Berdasarkan data Investasi, harga emas juga terkoreksi 8,52 persen dalam sebulan terakhir.

Pelaku pasar saat ini lebih memprioritaskan arah kebijakan suku bunga acuan dibandingkan sentimen positif dari meredanya ketegangan geopolitik global setelah perjanjian damai AS-Iran.

Fokus Pasar Bergeser ke Suku Bunga

Kebijakan moneter ketat menjadi faktor utama yang membebani harga emas karena komoditas ini tidak menawarkan imbal hasil tetap seperti obligasi.

Presiden Komisaris HFX International Berjangka, Sutopo Widodo, mengatakan fokus pasar saat ini bergeser ke prospek suku bunga.

"Selama narasi hawkish masih dominan, tekanan terhadap harga emas dan perak cenderung bertahan," ujar Sutopo.

>>> Saham BBCA Diserbu Asing, Target Harganya Bisa Capai Segini

Ia menjelaskan bahwa tekanan terhadap emas terjadi melalui peningkatan biaya peluang akibat kenaikan imbal hasil obligasi AS dan penguatan dolar.

Meski demikian, penurunan harga saat ini dinilai sebagai penyesuaian pasar jangka pendek.

Akumulasi oleh investor institusi dan diversifikasi cadangan devisa oleh bank sentral global tetap berjalan.

Untuk kuartal III-2026, harga emas global diproyeksikan bergerak dalam rentang US$ 4.600 hingga US$ 4.850 per ons troi.

Ada peluang menguji level US$ 5.000 jika terjadi gejolak baru.

>>> Grace Natalie Pamer Kaos Jokowi Berjaket PSI, Isyarat Gabung Makin Kuat

Di pasar domestik, harga emas Antam diperkirakan bertahan di kisaran Rp 2.800.000 hingga Rp 3.000.000 per gram, dipengaruhi pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.