Teheran bertekad memantau secara cermat pelaksanaan komitmen Amerika Serikat berdasarkan nota kesepahaman (MoU) tentang pengakhiran perang.

Hal itu disampaikan Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeli Baqaei menjelang pembicaraan di Swiss, Minggu.

in1

>>> Kerusakan Hutan TNKS Seksi VI Bengkulu Capai 10.000 Hektare

Baqaei mendampingi delegasi Iran ke pertemuan tersebut.

Fokus utama adalah langkah tindak lanjut terkait MoU 18 Juni 2026 tentang pengakhiran perang oleh AS dan Israel.

Melalui akun X, Baqaei menulis bahwa Teheran berkomitmen memastikan ketentuan perjanjian dilaksanakan dengan tepat dan serius. Pertemuan di Swiss dimaksudkan untuk meninjau kemajuan pelaksanaan ketentuan-ketentuan utama MoU.

Ia menekankan bahwa berdasarkan Pasal 13 dokumen tersebut, perundingan menuju kesepakatan akhir hanya dapat dimulai setelah beberapa komitmen spesifik dipenuhi.

Itu termasuk Pasal 1, 4, 5, 10, dan 11 dari MoU.

Tanpa implementasi klausul-klausul itu, khususnya Pasal 1 yang menyerukan penghentian permusuhan di semua lini termasuk Lebanon, mustahil melanjutkan negosiasi tentang penyelesaian akhir.

>>> Faathir/Devin Raih Runner-Up Macau Open 2026

Pembicaraan saat ini terutama berfokus pada implementasi ketentuan tersebut, terutama persyaratan gencatan senjata.

Pembahasan Minyak dan Aset Beku

Diskusi juga meninjau mekanisme untuk menegakkan Pasal 10, yang berkaitan dengan dimulainya kembali ekspor minyak Iran.

Selain itu, Pasal 11 membahas pelepasan aset Iran yang dibekukan di luar negeri.

Delegasi Iran dipimpin Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf sebagai kepala tim negosiasi. Mereka tiba di Zurich pada Sabtu malam waktu setempat.

Dari pihak AS, hadir utusan khusus Presiden Donald Trump, Steve Witkoff, dan penasihat presiden Jared Kushner. Wakil Presiden JD Vance juga ikut dalam pembicaraan tersebut.

>>> Soyjoy Nutrition Award 2026 Apresiasi Ratusan Program Inovasi Ahli Gizi

Vance mengatakan pertemuan dapat berlangsung satu hingga dua hari. Agenda mencakup implementasi memorandum, gencatan senjata Lebanon, dan isu terkait berkas nuklir Iran.