Harga minyak dunia mengalami penurunan tajam dalam sebulan terakhir.

Mengutip Trading Economics, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) terkoreksi 21,30% ke level US$ 77,33 per barel pada Jumat (19/6/2026).

in1

>>> Kemenkes Bantah Isu Mark Up Anggaran Alkes RSUD Krui

Dalam periode yang sama, harga minyak Brent menyusut 23,26% ke level US$ 80,59 per barel. Penurunan ini dipicu oleh meredanya konflik geopolitik di Timur Tengah.

Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi mengatakan, dampak penurunan harga minyak tidak akan langsung terasa bagi emiten jasa migas.

Kontrak drilling biasanya berdurasi 1–3 tahun, sehingga tekanan margin baru terasa saat pembaruan kontrak.

Wafi menambahkan, aktivitas produksi migas masih ekonomis ketika harga minyak mentah di kisaran US$ 77–US$ 80 per barel.

Risiko baru muncul jika harga di bawah US$ 70 per barel, yang dapat memicu pemotongan belanja modal KKKS dan perlambatan pengeboran.

Prospek Emiten Jasa Migas

Pengamat Pasar Modal Raden Bagus Bima menilai penurunan harga minyak belum menjadi sinyal berakhirnya siklus positif sektor migas.

>>> Tips Memeras Lemon dan Jeruk Agar Tangan Tidak Pegal, Cukup Pakai Alat Dapur Sederhana

Aktivitas hulu migas lebih ditentukan oleh RKAB jangka menengah dan panjang, bukan pergerakan harga jangka pendek.

Selama harga minyak di atas level aman dan pemerintah mendorong peningkatan produksi, permintaan jasa pengeboran dan offshore support masih berpotensi tumbuh.

Raden menyebut emiten seperti PT Elnusa Tbk (ELSA), PT Radiant Utama Interinsco Tbk (RUIS), dan PT Apexindo Pratama Duta Tbk (APEX) relatif positif jika memiliki kontrak jangka panjang.

Tantangan utama adalah potensi penundaan proyek eksplorasi berisiko tinggi jika harga minyak terus melemah. Oleh karena itu, emiten perlu meningkatkan utilisasi aset, efisiensi operasional, dan diversifikasi layanan.

Raden menyarankan investor untuk wait and see saham jasa migas karena konsentrasi pasar menurun.

Sementara itu, Wafi menyebut ELSA tetap unggul berkat kontrak Pertamina, sedangkan RUIS dan APEX lebih rentan terhadap perlambatan belanja modal KKKS.

>>> Ketum FPTI: Pelatnas Jangka Panjang Perkuat Pembinaan Atlet

Subsektor jasa migas masih menarik untuk investasi 12 bulan jika harga minyak stabil di atas US$ 70 per barel, demikian menurut Wafi.