Pengamat Soroti Tantangan Indonesia sebagai Negara Transit Pengungsi
Indonesia menghadapi tantangan sebagai negara transit yang menampung pengungsi dalam jangka panjang karena semakin terbatasnya peluang penempatan ke negara ketiga.
Hal itu disampaikan pengamat hubungan internasional Arie Afriansyah saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Minggu.
>>> Piala Dunia 2026: Belanda dan Jepang Pesta Gol, Jerman Lolos ke 32 Besar
Menurut Arie, tantangan lain meliputi keterbatasan kapasitas daerah penampung, potensi ketegangan sosial dengan masyarakat lokal, serta munculnya jaringan penyelundupan manusia yang memanfaatkan situasi pengungsi.
Ia menjelaskan bahwa Indonesia belum meratifikasi Konvensi Pengungsi 1951 dan Protokol 1967, sehingga kerangka hukum nasional masih terbatas, terutama melalui Peraturan Presiden (Perpres) No. 125 tahun 2016 tentang Penanganan Pengungsi dari Luar Negeri.
Meski dapat membantu penanganan awal, peraturan itu belum sepenuhnya menjawab persoalan jangka panjang seperti status hukum, akses kerja, pendidikan, kesehatan, pembiayaan, dan pembagian kewenangan antara pemerintah pusat dan daerah.
Arie menegaskan bahwa Indonesia tetap harus menghormati prinsip kemanusiaan dan prinsip non-refoulement, yaitu tidak mengembalikan seseorang ke tempat di mana ia berisiko mengalami penganiayaan atau ancaman serius.
"Jadi, pendekatannya tidak bisa semata-mata berfokus pada keamanan perbatasan, tetapi harus memadukan aspek hukum, kemanusiaan, diplomasi, dan kerja sama regional," ujarnya.
Ia juga mengatakan bahwa Indonesia tidak bisa hanya menggantungkan solusi pada penempatan ke Australia karena jumlah penerimaan pengungsi ke Australia terbatas dan harus dibagi untuk memenuhi kebutuhan pengungsi dari seluruh dunia.
Pembatasan itu membuat banyak pengungsi berada dalam ketidakpastian panjang di Indonesia.
Perkuat Kerja Sama Regional
Profesor Fakultas Hukum Universitas Indonesia itu mengatakan bahwa Pemerintah Indonesia perlu memperkuat kerja sama regional, terutama melalui ASEAN, Bali Process, UNHCR, IOM, Australia, dan negara-negara transit.
Update Terbaru
Profil Bayu Sapto Nugroho Guru SD yang Lakukan Pelecehan pada SPG, Lengkap dari Umur, Agama dan IG
Minggu / 21-06-2026, 19:01 WIB
4 Perusahaan Ini Bakal Lakukan PHK, Lebih dari 5.000 Pekerja Terdampak
Minggu / 21-06-2026, 18:56 WIB
Modal Pistol Korek Api, Mahasiswa di Bekasi Nekat Rampok Minimarket Rp12 Juta
Minggu / 21-06-2026, 18:56 WIB
Emas Cokelat: Modal Baru Diversifikasi Ekonomi Berkelanjutan Kutim
Minggu / 21-06-2026, 18:56 WIB
PLN Bantah Hoaks Pemadaman Listrik 3 Hari di Jawa-Bali
Minggu / 21-06-2026, 18:56 WIB
Gaya Bahasa Jakselan di Kampus: Ancaman bagi Logika Bahasa Baku
Minggu / 21-06-2026, 18:49 WIB
IHSG Diprediksi Hijau, 3 Saham Pilihan untuk Dipantau Pekan Ini
Minggu / 21-06-2026, 18:49 WIB
Uni Eropa Siapkan Tarif Baru untuk Mobil Hybrid China
Minggu / 21-06-2026, 18:49 WIB
Pemerintah Siapkan Skenario Uji Coba Tol Tanpa Berhenti MLFF
Minggu / 21-06-2026, 18:47 WIB
Sekata Kopi Terapkan Konsep Rumah Kedua untuk Hadapi Persaingan Ketat
Minggu / 21-06-2026, 18:46 WIB
Jepang Hancurkan Tunisia 4-0 di Piala Dunia 2026
Minggu / 21-06-2026, 18:46 WIB
InJourney Airports Revitalisasi Bandara Minangkabau Rp553 Miliar
Minggu / 21-06-2026, 18:45 WIB
Veda Ega Pratama Tembus Lima Besar Moto3 Ceko 2026 Usai Start ke-20
Minggu / 21-06-2026, 18:44 WIB
Bisnis Kedai Kopi Makin Ketat, Konsep 'Rumah Kedua' Jadi Senjata Bertahan
Minggu / 21-06-2026, 18:44 WIB






