Pemandangan menarik sekaligus menggelitik sering terlihat di kafe dekat kampus atau koridor fakultas.

Percakapan mahasiswa kerap dipenuhi kosakata hibrida seperti "Which is sebenarnya kita tuh harus literally nyelesaiin ini fast as possible, Guys."

in1

>>> IHSG Diprediksi Hijau, 3 Saham Pilihan untuk Dipantau Pekan Ini

Frasa seperti "Gue lagi nyari insight buat preference tugas ini, biar kelihatan lebih well-prepared" sudah menjadi makanan sehari-hari.

Campur aduk bahasa ini seolah menjadi identitas wajib mahasiswa urban masa kini.

Komodifikasi Sosial di Lingkungan Kampus

Di lingkungan pergaulan kampus, mencampur istilah asing bukan lagi sekadar bumbu percakapan. Ia telah bergeser menjadi alat komodifikasi sosial.

Ada kesepakatan tidak tertulis bahwa semakin banyak istilah asing diselipkan, semakin tinggi kasta sosial dan tingkat intelektualitas di mata sirkel pergaulan.

Sebaliknya, mereka yang berbicara bahasa Indonesia runtut sering dicap kaku atau kurang pergaulan.

Di balik topeng "keren" dan "intelek" tersebut, ada ancaman sosiolinguistik serius.

Penelitian dalam Jurnal Sosioteknologi ITB menunjukkan kecenderungan mencampuradukkan bahasa asing secara masif dipicu oleh prestise sosial demi membangun citra modernitas.

Dampak pada Kemampuan Menulis Ilmiah

Dampak lanjutannya dalam ranah pedagogi menunjukkan korelasi negatif terhadap kedisiplinan berbahasa formal. Kerancuan berbahasa menciptakan penurunan kepekaan terhadap struktur kalimat baku.

Saat mahasiswa dituntut menulis karya ilmiah, mereka mendadak gagap merangkai paragraf yang memenuhi standar logika kalimat efektif sesuai EYD V.

Kebiasaan menggunakan bahasa campuran membuat struktur berpikir menjadi malas.

>>> Pemerintah Siapkan Skenario Uji Coba Tol Tanpa Berhenti MLFF

Mereka terbiasa melompati proses pencarian padanan kata yang tepat dalam bahasa Indonesia. Akibatnya, tulisan menjadi rancu, struktur kalimat bolong-bolong, dan argumen berputar-putar tanpa arah.