Mahasiswa yang mampu berdebat panjang lebar dengan istilah teoretis berbahasa asing di seminar sering mati kutu ketika diminta menuliskan ringkasan ide dalam satu paragraf bahasa baku yang kohesif dan koheren.

Ini adalah bukti nyata bahwa komodifikasi bahasa asing telah menciptakan generasi yang terlihat cerdas di permukaan, tetapi rapuh secara metodologis dalam draf tulisan.

in1

Kita kehilangan kemampuan menghargai kedalaman logika bahasa sendiri demi validasi sosial yang semu.

Bahasa bukan sekadar alat tukar informasi atau gaya-gayaan agar terlihat modis. Bahasa adalah cerminan kedisiplinan cara berpikir.

Jika untuk menyusun satu argumen utuh harus meminjam separuh struktur dari bahasa lain secara serampangan, ada yang salah dengan cara merawat nalar.

Institusi kampus seharusnya menjadi benteng terakhir yang menjaga martabat bahasa, bukan inkubator yang memaklumi hilangnya kemampuan berbahasa baku atas nama modernitas.

Berhentilah memandang rendah mereka yang setia pada struktur bahasa baku lokal. Keren dan intelek tidak diukur dari seberapa banyak istilah asing yang berhasil dijejalkan dalam satu tarikan napas.

Kecerlangan seorang akademisi sejati diuji dari seberapa jernih, runtut, dan tajamnya argumen yang dibangun.

>>> Sekata Kopi Terapkan Konsep Rumah Kedua untuk Hadapi Persaingan Ketat

Hal itu hanya bisa dicapai jika memiliki rasa hormat serta pemahaman utuh terhadap logika bahasa sendiri.