Jaringan Cendekiawan Muda (JCM) menegaskan bahwa kampus harus tetap menjadi ruang aman bagi dialektika intelektual dan kebebasan berpikir yang bertanggung jawab.

Sekretaris Jenderal PB HMI sekaligus Pendiri JCM Muh.

>>> Airlangga Minta Himbara Tidak Terburu-buru Naikkan Bunga Kredit

Jusrianto mengatakan perbedaan pandangan seharusnya diselesaikan melalui dialog, argumentasi, dan pertukaran gagasan, bukan dengan persekusi maupun pembubaran paksa.

Pernyataan itu disampaikan Jusrianto dalam keterangan di Jakarta, Kamis, menanggapi pembubaran diskusi ilmiah di lingkungan Universitas Gadjah Mada (UGM), Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) beberapa waktu lalu.

Menurut JCM, tindakan intimidatif terhadap kegiatan akademik merupakan bentuk pembungkaman yang mencederai demokrasi dan kebebasan akademik.

JCM juga menolak segala bentuk intervensi dan penunggangan gerakan mahasiswa oleh kepentingan politik praktis.

Jusrianto menekankan mahasiswa harus menjaga independensi sebagai kekuatan moral dan agen kontrol sosial yang berpihak kepada kepentingan rakyat.

Setiap bentuk mobilisasi mahasiswa yang diarahkan untuk kepentingan elektoral maupun agenda politik kelompok tertentu harus ditolak secara terbuka, ujarnya.

Masukan terhadap Program Strategis Nasional

Dalam keterangannya, JCM juga memberikan sejumlah masukan terhadap beberapa program strategis nasional.

Pada program Makan Bergizi Gratis (MBG), JCM mendukung tujuan peningkatan kualitas sumber daya manusia, namun mengingatkan potensi persoalan tata kelola, pengawasan, dan distribusi yang harus segera dibenahi.

>>> Adidas Trionda, Bola Resmi Final Piala Dunia 2026, Diproduksi di Indonesia

JCM mendorong pelaksanaan Koperasi Desa Merah Putih secara profesional dan transparan agar tidak menjadi instrumen yang dimanfaatkan oleh kepentingan oligarkis di tingkat lokal.

JCM juga meminta pemerintah memastikan kebijakan energi tetap berpihak kepada masyarakat menengah ke bawah dan pelaku UMKM yang paling rentan terdampak gejolak harga.