PT Mandiri Capital Indonesia (MCI) memperkirakan rasio biaya operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO) industri modal ventura akan menurun secara gradual.

Direktur Utama MCI, Ronald S.

>>> Prabowo Minta Himbara Tak Hanya Kejar Laba, tapi Hadir untuk Rakyat

Simorangkir, menjelaskan bahwa tingginya BOPO saat ini dipengaruhi oleh karakteristik bisnis penyertaan modal yang tidak menghasilkan pendapatan rutin bulanan.

Pendapatan perusahaan modal ventura umumnya berasal dari realisasi investasi, dividen, atau capital gain saat divestasi yang bersifat episodik.

Sementara itu, beban operasional seperti gaji, due diligence, dan monitoring portofolio berjalan terus-menerus.

Ronald menyebutkan bahwa kondisi makro ekonomi juga turut menekan BOPO, seperti lesunya investasi pada perusahaan rintisan dan terbatasnya peluang exit.

Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan pembiayaan industri modal ventura terkontraksi 0,87% secara tahunan per April 2026.

>>> Cara Cek Bansos PKH dan BPNT Tahap 2 2026 via NIK KTP

Meski demikian, rasio BOPO industri modal ventura tercatat turun menjadi 97,63% pada April 2026 dari 98,03% pada Maret 2026.

Strategi Efisiensi MCI

Untuk menjaga efisiensi, MCI menerapkan disiplin biaya operasional, memanfaatkan sinergi dengan Grup Bank Mandiri, serta mendigitalisasi proses bisnis dengan kecerdasan buatan (AI).

Perusahaan juga fokus membangun portofolio investasi baru dan mendiversifikasi sumber pendapatan.

Ronald menekankan bahwa indikator kinerja yang lebih relevan untuk modal ventura adalah internal rate of return (IRR), bukan BOPO per bulan atau kuartal.

>>> Bank Indonesia Naikkan Batas Pendanaan Luar Negeri Perbankan Jadi 40 Persen

MCI menargetkan rasio BOPO dapat ditekan di bawah 90% dalam jangka menengah, dan idealnya menuju kisaran 80% saat siklus industri normal kembali.