Badan Gizi Nasional (BGN) berencana melakukan penghitungan ulang terhadap usulan pagu indikatif Tahun Anggaran 2027 senilai Rp 270 triliun.

Angka tersebut dinilai terlalu besar oleh pimpinan baru BGN.

>>> Indonesia Raih Dukungan Penuh China untuk Penerbitan Perdana Panda Bond

Wakil Kepala BGN Agustina Arumsari menyampaikan hal itu di Jakarta pada Kamis (18/6/2026).

Menurutnya, alokasi dana jumbo yang diajukan oleh kepala BGN sebelumnya, Dadan Hindayana, melampaui kebutuhan riil jika dibandingkan dengan target pembangunan nasional.

"2027 itu sekitar Rp 270 triliun dengan asumsi penerima manfaat sekitar 81 juta. Tapi sekali lagi itu diajukan oleh masa yang dulu.

Sementara kami menganggap kalau kita melihat secara umum dari data yang ada atau kalau kita bandingkan dengan RPJMN itu sebenarnya sudah jauh sekali," ujar Agustina.

BGN bersama Dewan Perwakilan Rakyat telah menyepakati waktu satu bulan untuk merumuskan kembali struktur anggaran tersebut.

>>> Timnas Afrika Selatan Bersiap Hadapi Republik Ceko di Piala Dunia 2026

Evaluasi juga mencakup pembenahan tata kelola dan penajaman sasaran penerima manfaat di sisa tahun 2026.

"Kemarin dengan DPR sudah sepakat kami diberi waktu 1 bulan untuk kami susun ulang lagi.

Jadi besok kami bahas dengan Kementerian Keuangan lalu minggu depan juga kami bahas lagi. Angka detailnya belum bisa kami sampaikan," jelas Agustina.

Dalam proses penyisiran anggaran, BGN menyerap masukan dari Kementerian Kesehatan dan para pakar agar program intervensi gizi berjalan efektif.

Salah satu skema efisiensi yang dikaji adalah potensi pencoretan anak sekolah dari keluarga mampu dalam daftar penerima bantuan.

>>> Sheriff Flagler County Peringatkan Remaja soal Bahaya Tantangan Door Kick

"Kami meng-exercise lagi berapa yang bisa diefisienkan. Tujuan kami adalah indikator intervensi gizi tercapai tetapi penerima manfaat lebih fokus," pungkas Agustina.