Sebuah pembangkit listrik kecil di Fukuoka, Jepang, menghasilkan listrik dari pertemuan air asin dan air tawar.

Teknologi ini disebut osmosis, memanfaatkan gaya alami yang biasanya bekerja di dalam pohon, sel, dan tubuh manusia.

in1

>>> Timo Scheunemann dan Jacksen F Tiago Seleksi Pemain Timnas Putri di Kudus

Fasilitas ini mulai beroperasi di Pusat Desalinasi Air Laut Uminonakamichi Nata, dikenal sebagai Mamizupia, pada 5 Agustus 2025.

Ini adalah pembangkit osmosis praktis pertama di Jepang dan kedua di dunia setelah proyek SaltPower di Denmark.

Pembangkit ini bukan stasiun raksasa, tetapi dapat menunjukkan cara baru bagi kota pesisir untuk menghasilkan energi bersih dari infrastruktur yang sudah ada.

Cara Kerja Osmosis

Osmosis terjadi ketika air bergerak secara alami dari larutan kurang asin menuju larutan lebih asin jika dipisahkan oleh membran khusus.

Pergerakan itu membangun tekanan di sisi asin, dan tekanan tersebut dapat memutar turbin untuk menghasilkan listrik.

Di Fukuoka, sisi asin bukan air laut biasa.

Pembangkit menggunakan air garam pekat sisa desalinasi yang kadar garamnya sekitar 8%, dua kali lipat dari air laut biasa.

Sisi lainnya adalah air limbah olahan dari pabrik pengolahan limbah terdekat.

Semakin besar perbedaan salinitas, semakin banyak energi yang tersedia.

Jepang tidak hanya menguji sumber energi baru, tetapi juga menghubungkan pabrik desalinasi dan sistem air limbah menjadi satu mesin bersih.

Kapasitas Kecil, Keunggulan Besar

Angkanya tidak besar, tetapi penting.

Kyowakiden Industry, mitra proyek, mengatakan fasilitas ini memiliki output daya bersih sekitar 110 kilowatt dan dapat menghasilkan hingga 880.000 kilowatt-jam per tahun.

Menurut JapanGov, itu cukup untuk sekitar 300 rumah tangga.