Bupati Natuna, Cen Sui Lan, menilai konsep Sekolah Satu Atap dapat menjadi solusi pemerataan pendidikan di daerah terpencil atau berpenduduk minim.

Model ini mengintegrasikan dua jenjang pendidikan, seperti SD dan SMP, dalam satu lokasi dengan pengelolaan terpadu.

in1

>>> YLKI Dukung Pembangunan PLTS 100 GW untuk Diversifikasi Energi

"Kita lebih mengutamakan sekolah satu atap untuk wilayah-wilayah yang jumlah penduduknya sedikit," ujar Cen Sui Lan di Natuna, Ahad.

Penerapan model tersebut memungkinkan pemerintah menghemat biaya pembangunan gedung sekolah serta penyediaan sarana dan prasarana pendukung.

Rencana penerapan di Desa Selaut

Salah satu daerah yang direncanakan menerapkan konsep ini adalah Desa Selaut, sebuah desa kepulauan yang terpisah dari ibu kota kabupaten dan Kecamatan Bunguran Barat.

Saat ini, Desa Selaut hanya memiliki SD Negeri 007 Selaut dengan jumlah siswa per rombongan belajar tidak mencapai 10 orang, dan belum memiliki SMP.

>>> FIFA Terapkan Aturan Kartu Merah bagi Pemain yang Tutup Mulut

Akibatnya, lulusan SD harus melanjutkan pendidikan ke daerah lain dengan waktu tempuh perjalanan laut menggunakan kapal cepat lebih dari 30 menit.

Cen Sui Lan menjelaskan, jika dibangun SMP baru, akan menguras banyak anggaran karena selain gedung, biaya belanja pegawai juga bertambah.

Pada tahun ajaran 2026/2027, Pemkab Natuna berencana membuka satuan pendidikan SMP di Desa Selaut dengan memanfaatkan sementara gedung SD Negeri 007 Selaut.

Kehadiran SMP di desa itu dinilai penting untuk mengurangi risiko kecelakaan laut yang dihadapi pelajar dan mencegah perpindahan penduduk karena alasan pendidikan anak.

>>> Dishub Jatim Kaji Kapal Cepat Hydrofoil untuk Rute Kepulauan

"Kita khawatir setelah anak-anak menyelesaikan pendidikan dasar, mereka pindah bersama keluarganya. Kalau terus terjadi, lama-kelamaan desa ini bisa kosong," kata Cen Sui Lan.