BGN Prioritaskan Daerah Terpencil Setelah Anggaran Makan Bergizi Dipangkas
Badan Gizi Nasional (BGN) mengubah prioritas program Makan Bergizi Gratis dengan mengutamakan daerah terpencil dan peningkatan tata kelola layanan.
Langkah ini diambil setelah pagu anggaran dipotong menjadi Rp268 triliun dari rencana awal Rp335 triliun.
>>> Harga Pangan 7 Juni 2026: Bawang Merah dan Minyak Goreng Naik
Kepala BGN Nanik Sudaryati Deyang menyampaikan bahwa pemerintah tidak lagi mengejar target awal 82,9 juta penerima manfaat pada tahun 2026.
Hal ini seperti dilansir dari Nasional.
Perbaikan Data dan Tata Kelola
Pengamat kebijakan publik Universitas Trisakti, Trubus Rahardiansyah, menilai pembenahan data penerima manfaat harus menjadi prioritas utama.
Menurutnya, masih banyak kelompok sasaran yang belum terjangkau, seperti siswa sekolah swasta, santri, masyarakat daerah 3T, ibu hamil, menyusui, dan balita.
"Data penerima manfaat harus dievaluasi terlebih dahulu. Kalau datanya tidak akurat, potensi penyimpangan dan korupsi akan terus muncul," ujar Trubus.
Trubus menambahkan bahwa BGN perlu mengevaluasi pola kerja sama dengan yayasan pengelola dapur.
Ia juga mendorong pembatasan jumlah dapur yang dikelola satu yayasan serta penguatan transparansi alokasi anggaran karena menggunakan dana APBN.
>>> Dokter Laurencia Ardi Ingatkan Tubuh Tetap Butuh Asupan Gula
"Publik harus mengetahui alokasi biaya setiap menu, bahan baku yang digunakan, hingga rantai pasoknya. Karena ini menggunakan dana APBN, maka pengawasannya harus terbuka," kata Trubus.
Indikator keberhasilan program, menurut Trubus, harus diukur dari dampak nyata terhadap kesehatan, pendidikan, dan perbaikan status gizi anak jangka panjang.
Ia menekankan agar tidak hanya menghitung jumlah penerima.
Meskipun memerlukan evaluasi total, Trubus tidak setuju jika program dihentikan sementara melalui moratorium. "Programnya tetap harus berjalan karena dibutuhkan masyarakat.
Yang harus dibenahi adalah tata kelola, pengawasan, dan akuntabilitas penggunaan anggarannya," tegasnya.
Dalam laporan yang sama, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa membantah isu kewajiban pembelian Merah Putih Bond oleh warga negara Indonesia.
>>> OJK Catat Aset Asuransi Nonkomersial Turun 1,95% Jadi Rp 217,96 Triliun
Pengamat kini mendorong pemerintah dan DPR untuk segera menyusun payung hukum yang lebih kuat demi menjamin keberlanjutan dan efektivitas program.
Update Terbaru
Raymond Indra dan Nikolaus Joaquin Tembus Final Polytron Indonesia Open 2026
Minggu / 07-06-2026, 21:33 WIB
Zverev dan Cobolli Berebut Gelar Grand Slam Perdana di Final French Open 2026
Minggu / 07-06-2026, 21:33 WIB
CFA Pertimbangkan Boikot Piala ASEAN FIFA 2026 Demi Fokus ke Piala Asia
Minggu / 07-06-2026, 21:33 WIB
Roy Keane Kritik Harry Maguire Gagal Masuk Skuad Timnas Inggris
Minggu / 07-06-2026, 21:32 WIB
Pemprov DKI Janjikan Insentif Pajak bagi Hotel yang Pilah Sampah
Minggu / 07-06-2026, 21:32 WIB
Alexander Zverev Hadapi Flavio Cobolli di Final French Open 2026
Minggu / 07-06-2026, 21:32 WIB
Manchester United Berpeluang Tikung Bayern Munich dalam Perburuan Nathaniel Brown
Minggu / 07-06-2026, 21:32 WIB
Lembaga Keuangan Asia Pasifik Hadapi Lonjakan Serangan Siber
Minggu / 07-06-2026, 21:28 WIB
Roy Keane Kritik Harry Maguire Gagal Masuk Skuad Piala Dunia 2026
Minggu / 07-06-2026, 21:28 WIB
Victor Lai Juara Indonesia Open 2026 Usai Kalahkan Jonatan Christie
Minggu / 07-06-2026, 21:28 WIB
Alexander Zverev Hadapi Flavio Cobolli di Final Prancis Terbuka 2026
Minggu / 07-06-2026, 21:24 WIB
Michael Carrick Rombak Skuad Manchester United dengan Dana Penjualan Greenwood
Minggu / 07-06-2026, 21:23 WIB
Arsenal dan Liverpool Incar Bradley Barcola pada Bursa Transfer 2026
Minggu / 07-06-2026, 21:23 WIB
Pertamina Tanam 1.000 Pohon dan Perkuat Kelola Sampah di Bantul
Minggu / 07-06-2026, 21:20 WIB






