Mobil modern semakin canggih berkat konektivitas internet dan pembaruan perangkat lunak over-the-air (OTA). Namun, kemudahan ini memunculkan kekhawatiran serius terkait keamanan siber.

Menurut para pakar keamanan siber, sistem kendaraan modern memiliki lapisan pengamanan berlapis. Peretas sangat sulit mengakses komponen vital seperti kemudi, rem, atau pedal gas secara langsung.

>>> PKH dan BPNT Tahap 3 Juli-September 2026 Mulai Cair, Begini Cara Cek Status Penerima

Ancaman terbesar bukanlah peretasan yang mengambil alih kendali mobil seperti di film aksi. Risiko yang lebih realistis adalah kendaraan dilumpuhkan dari jarak jauh atau data sensitif pengguna dicuri.

Investigasi Ungkap Akses Jarak Jauh Produsen China

Kekhawatiran ini mencuat setelah investigasi di Norwegia menemukan produsen bus listrik asal China masih memiliki akses jarak jauh ke beberapa sistem kendaraan melalui jaringan seluler.

Skenario yang paling dikhawatirkan bukanlah kendaraan dibajak saat melaju.

>>> Danantara dan BP BUMN Matangkan Konsolidasi Maskapai, Pelita Air Bergabung ke Garuda Indonesia

Ancaman utama justru menyasar armada transportasi, kendaraan logistik, atau ribuan mobil listrik yang tidak bisa dioperasikan secara massal akibat serangan siber.

Serangan semacam itu juga berpotensi mengganggu proses pengisian daya baterai hingga pencurian data jutaan kendaraan yang terhubung ke internet.

Di sisi lain, konektivitas internet memberikan keuntungan bagi pemilik. Produsen dapat mengirim pembaruan perangkat lunak untuk menutup celah keamanan tanpa kendaraan harus datang ke bengkel.

>>> Alphard Terobos Lampu Merah, Polisi Dalami KTA Misterius

Namun, seiring bertambahnya fitur yang terhubung ke internet, produsen kendaraan dituntut terus memperbarui sistem keamanan agar tidak dimanfaatkan peretas.