Drama Korea bergenre kekerasan tengah mendominasi layar kaca dan platform streaming. Dua judul terpopuler saat ini adalah 'Agent Kim Reactivated' dan 'Teach You a Lesson'.

'Agent Kim Reactivated' yang dibintangi So Ji-sub mencatat rating 23,1 persen pada episode kedelapan.

>>> Film Terbaru Lee Chang-dong 'Possible Love' Bersaing di Festival Film Venesia

Angka ini menjadikannya drama SBS Jumat-Sabtu dengan rating tertinggi kedua sepanjang masa setelah 'The Penthouse 2'.

Sementara itu, 'Teach You a Lesson' garapan Netflix masuk dalam jajaran tayangan paling banyak ditonton di dunia pada paruh pertama 2026.

Kedua drama ini sama-sama menampilkan adegan kekerasan grafis.

Pandangan Psikiater: Cerminan Emosi Negatif

Seorang psikiater di Gangnam, Seoul, mengutip penelitian terbaru yang menunjukkan hubungan antara suasana hati negatif dan konsumsi konten negatif.

Studi yang melibatkan 1.145 partisipan dari Stanford, MIT, dan University College London menemukan bahwa orang dengan emosi negatif cenderung mencari konten yang memperkuat perasaan tersebut.

>>> Yoo Ah-in Isyaratkan Kembali Berakting di Tengah Pembicaraan Kontrak dengan Galaxy

Psikiater tersebut menilai popularitas drama kekerasan bisa mencerminkan kondisi psikologis kolektif masyarakat. Namun ia mengingatkan perlunya kehati-hatian dalam menarik kesimpulan.

Pandangan Akademisi: Bukan Fenomena Baru

Yu Kyung-han, profesor media dan komunikasi di Jeonbuk National University, berpendapat sebaliknya. Menurutnya, cerita tentang kemarahan dan keadilan telah menjadi narasi laris sepanjang sejarah manusia.

Ia mencontohkan 'The Story of Hong Gildong' yang dibangun di atas fondasi emosional serupa.

Yu juga menekankan bahwa di era streaming, penonton aktif memilih tontonan, bukan sekadar menerima tayangan televisi.

Meski demikian, Yu setuju bahwa para ahli perlu mencermati aspek mana yang membuat penonton terhubung dengan cerita-cerita tersebut.

>>> Lee Dong-wook Bicara 'A Shop for Killers' Season 2: Lebih Brutal dan Lebih Manusiawi

Katarsis sejati, menurutnya, bukan dari adegan kekerasan, melainkan dari keadilan yang terwujud di dunia nyata.