Masyarakat diimbau untuk tidak menghentikan konsumsi gula secara total di tengah tren diet tanpa gula.

Tubuh tetap membutuhkan gula sebagai sumber energi utama untuk aktivitas fisik dan fungsi kognitif otak.

>>> OJK Catat Aset Asuransi Nonkomersial Turun 1,95% Jadi Rp 217,96 Triliun

Hal ini disampaikan oleh Health Communicator Kalbe Nutritionals, dr Laurencia Ardi, MGizi, AIFO-K, dalam acara detikcom Leaders Forum pada Jumat (5/6/2026).

Menurutnya, membatasi gula secara ekstrem kurang tepat karena karbohidrat akan dipecah menjadi glukosa sebagai bahan bakar sel tubuh.

"Jadi, untuk asupan makanan gula itu gak harus kita stop, nggak boleh makan gula sama sekali.

Jadi gula tetap boleh dikonsumsi, tapi dengan catatan jumlahnya jangan berlebihan," kata dr Laurencia Ardi.

Pola makan sehat seharusnya berfokus pada pemenuhan nutrisi seimbang.

>>> Wakil Tuan Rumah Gagal Amankan Gelar di Indonesia Open 2026

Karbohidrat mengambil porsi sekitar 40 hingga 60 persen dari total isi piring harian, dan gula termasuk di dalamnya.

Sumber karbohidrat yang beragam seperti nasi, kentang, jagung, buah-buahan, dan umbi-umbian dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan energi.

Pemerintah telah menetapkan batas aman asupan gula per orang per hari, yaitu sekitar 4 hingga 5 sendok makan.

Jika konsumsi gula berlebih terjadi pada momen tertentu, peningkatan intensitas olahraga menjadi solusi untuk menjaga keseimbangan energi tubuh.

>>> Opta Jagokan Spanyol sebagai Favorit Utama Juara Piala Dunia 2026

"Kalau memang sudah terlanjur kita mengonsumsi karbohidrat ataupun gula yang berlebihan, bisa kita imbangi dengan membuat olahraganya yang lebih ditingkatkan lagi," ujar dr Laurencia Ardi.