Popularitas olahraga lari terus meningkat, dengan semakin banyak masyarakat mengikuti ajang 10K, half marathon, hingga marathon.

Di balik persiapan fisik dan latihan rutin, terdapat satu faktor krusial untuk menjaga performa sekaligus kesehatan tubuh, yaitu strategi nutrisi selama berlari.

in1

>>> PT Dua Samudera Perkasa Gelar Program Kepemimpinan untuk Karyawan

Pada olahraga endurance, tubuh menguras cadangan energi dalam jumlah besar.

Ketika simpanan glikogen menurun, pelari berisiko mengalami penurunan stamina, mudah lelah, hingga gagal mempertahankan performa hingga garis finis.

Group Head of Marketing & Media Activation KALBE Consumer Health, Arwin Nugraha Hutasoit, mengatakan pemenuhan nutrisi selama race menjadi bagian penting untuk membantu pelari menyelesaikan lomba dalam kondisi optimal.

"Pada aktivitas seperti marathon, half marathon, maupun 10K, tubuh mengalami pengurasan energi yang cukup besar.

Asupan karbohidrat tambahan selama berlari dapat membantu menjaga stamina, memperlambat kelelahan, dan membantu pelari mempertahankan performa hingga garis finis," ujar Arwin.

Ajang BTN Jakarta International Marathon (JAKIM) 2026 yang diikuti 45.500 pelari menjadi gambaran meningkatnya minat masyarakat terhadap olahraga lari.

Semakin panjang jarak yang ditempuh, semakin besar pula kebutuhan energi yang harus dipenuhi.

Saat berlari dalam durasi panjang, tubuh menggunakan glikogen sebagai sumber bahan bakar utama.

Jika cadangan ini habis, pelari dapat mengalami kondisi hitting the wall, yaitu saat tubuh kehilangan tenaga secara drastis dan performa menurun.

Konsumsi karbohidrat tambahan selama berlari kini menjadi bagian penting dalam strategi olahraga endurance. Salah satu produk yang banyak digunakan pelari adalah energy gel.

>>> Kementan: Indonesia Penuhi Standar Swasembada Pangan FAO

Produk ini dirancang untuk memberikan tambahan karbohidrat yang cepat diserap tubuh sehingga membantu mempertahankan pasokan energi selama aktivitas.