Faktor lingkungan dan gaya hidup menjadi aspek utama yang memicu obesitas, bukan faktor genetik.

Hal ini ditegaskan dalam Bamed Seminar Media bertajuk Comprehensive Aesthetic and Wellness: Integrated and Holistic Approach to Better Wellbeing.

in1

>>> WhatsApp Ubah Tampilan Android Jadi Mirip iPhone, Menu Pindah ke Bawah

Dokter spesialis gizi klinik dr. Maryam, Sp. GK menjelaskan bahwa kontribusi faktor keturunan terhadap penambahan berat badan sangat kecil.

Pola hidup yang dijalani seseorang jauh lebih berpengaruh.

"Jangan sampai ada anggapan, 'Dok, aku dari keluarganya sudah gemuk semua, jadi kayaknya enggak mungkin kalau mau turun.'

Genetik itu bisa berpengaruh, tapi tidak sampai 20 persen," kata dr. Maryam.

Selain memicu penyakit metabolik seperti diabetes dan hipertensi, obesitas juga dapat mengganggu kesehatan reproduksi serta kesuburan.

>>> Bank Mandiri Optimistis Bisnis Kartu Kredit Tumbuh Berkat Relaksasi BI

Kondisi ini juga berdampak pada masalah psikologis seperti depresi dan penurunan rasa percaya diri.

Dampak lebih luasnya adalah penurunan produktivitas ekonomi. Oleh karena itu, penanganan obesitas harus menyasar pada perubahan aspek yang paling mungkin diubah oleh pasien.

"Banyak yang bisa kita ubah, salah satunya adalah faktor lingkungan atau gaya hidup," ujar dr. Maryam.

Kekeliruan pemahaman masyarakat mengenai obesitas masih sering terjadi. Penumpukan lemak kerap disamakan dengan berat badan secara umum.

Fenomena tubuh kurus dengan kadar lemak tinggi atau skinny fat menjadi bukti perlunya pengukuran objektif. Hal ini penting agar penurunan berat badan tidak mengorbankan massa otot.

>>> Profil Rahadian M Saputra Pria Berkebaya di Kirab Malam 1 Suro Mangkunegaran yang Kini Sampaikan Permohonan Maaf: Umur, Agama dan IG

"Obesitas itu bukan kelebihan berat badan, tapi kelebihan lemak tubuh," jelas dr. Maryam.