Selama bertahun-tahun, banyak teori psikologi meyakini bahwa orang tua berperan besar dalam membentuk anak menjadi pribadi narsistik. Namun, penelitian terbaru justru menemukan hal yang berbeda.

Melansir PsyPost, Kamis (18/6/2026), sebuah studi yang dipublikasikan dalam jurnal Social Psychological and Personality Science menunjukkan bahwa kecenderungan narsisme dalam keluarga diwariskan hampir sepenuhnya melalui faktor genetik.

>>> Bank Mandiri Gelar Mandiri Jogja Marathon 2026 di Candi Prambanan

Bukan karena pola pengasuhan atau lingkungan rumah tangga.

Narsisme merupakan sifat kepribadian yang ditandai dengan rasa superior, merasa berhak mendapatkan perlakuan istimewa, serta keinginan kuat untuk memperoleh status sosial.

Orang dengan tingkat narsisme tinggi sering kali terlihat percaya diri dan mampu meraih kesuksesan awal dalam hubungan sosial maupun kepemimpinan.

Namun, dalam jangka panjang sifat ini juga kerap memicu konflik, pengambilan keputusan berisiko, hingga masalah di lingkungan kerja.

Penelitian Melibatkan Ribuan Keluarga

Untuk menguji anggapan tersebut, tim peneliti yang dipimpin psikolog Mitja Back dari University of Münster, Jerman, melakukan analisis terhadap ribuan anggota keluarga dalam proyek penelitian besar bernama TwinLife di Jerman.

Penelitian ini melibatkan 6.715 responden yang terdiri dari pasangan kembar identik dan non-identik, saudara kandung, ayah, ibu, serta pasangan mereka.

Struktur keluarga seperti ini memungkinkan peneliti membedakan pengaruh genetik dan lingkungan dalam pembentukan kepribadian.

Para peserta mengisi serangkaian kuesioner psikologis yang mengukur berbagai aspek narsisme, mulai dari perasaan istimewa, kemampuan memimpin, keinginan mengendalikan orang lain, hingga kebutuhan akan perhatian, kekaguman, dan prestise sosial.

Peneliti kemudian membandingkan tingkat kemiripan sifat narsisme di antara anggota keluarga yang memiliki tingkat kesamaan genetik berbeda-beda.

Hasilnya menunjukkan sekitar 50% perbedaan tingkat narsisme antarindividu dipengaruhi oleh faktor genetik. Sementara 50% sisanya berasal dari pengalaman hidup yang bersifat personal atau unik bagi masing-masing individu.