Badan Gizi Nasional (BGN) tengah mengkaji opsi pengelompokan atau klasterisasi dapur dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Langkah ini diambil karena kapasitas layanan dan jumlah penerima manfaat di setiap daerah tidak seragam.

>>> Yann LeCun Kritik xAI Milik Elon Musk: Gagal Bersaing dan Hadapi Krisis Finansial

Wakil Kepala BGN, Agustina Arumsari, membenarkan bahwa klasterisasi menjadi salah satu opsi yang dieksplorasi.

"Salah satu opsi yang akan diambil memang seperti itu ya, klasterisasi yang bisa dibuat.

Karena memang kalau kita mengacu mungkin daerah-daerah yang penduduknya tidak sebanyak Jawa, itu kan mungkin jumlah penduduknya tidak sebanyak Jawa.

Nah itu salah satu opsi klasterisasi yang akan kami eksplorasi," kata Agustina dalam konferensi pers di Jakarta Pusat, Kamis (18/6/2026).

Sebelumnya, Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI, Muhammad Qodari, mengungkapkan tengah menyiapkan sistem penilaian terhadap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur MBG dengan pembagian kelas A, B, dan C.

Klasifikasi tersebut nantinya akan menjadi salah satu dasar dalam menentukan besaran insentif yang diterima setiap dapur.

Penilaian operasional dan kualitas pelayanan akan menjadi penentu utama dalam kebijakan ini.

>>> Bank Indonesia Waspadai Lonjakan Inflasi Pangan Akibat El Nino

Dua dapur yang melayani jumlah penerima manfaat sama bisa menerima insentif berbeda jika standar kualitasnya tidak setara.

Menurut Agustina, pengelompokan dapur menjadi penting karena kondisi setiap wilayah berbeda.

Daerah dengan jumlah penerima manfaat lebih sedikit tidak dapat disamakan dengan wilayah padat penduduk seperti Pulau Jawa.

Hingga saat ini, regulasi yang berjalan masih menerapkan besaran insentif yang sama rata untuk seluruh SPPG.

Padahal, beban kerja serta sebaran penerima manfaat di lapangan sangat bervariasi.

Meski demikian, BGN menyatakan bahwa kebijakan klasterisasi ini belum bersifat final.

>>> Blue Bird Bagikan Dividen Rp166 per Saham, Yield 10%

Lembaga tersebut masih terus menggodok dan mengeksplorasi formula terbaik agar implementasi program MBG dapat berjalan dengan tepat sasaran.