Mengenal Sejarah Hari Raya Galungan Menurut Lontar Purana Bali Dwipa
Hari Raya Galungan merupakan momen sakral bagi umat Hindu untuk memperingati kemenangan Dharma (kebenaran) melawan Adharma (kejahatan).
Perayaan ini juga menjadi waktu untuk memperingati penciptaan alam semesta beserta isinya.
>>> Timnas Inggris Resmi Jadikan Wonderwall Oasis sebagai Anthem Piala Dunia 2026
Penentuan tanggal Galungan didasarkan pada perputaran kalender Saka Bali. Umat Hindu merayakannya setiap enam bulan Bali atau sekitar 210 hari sekali.
Kementerian Agama RI melalui Ditjen Bimas Hindu telah menerbitkan jadwal rangkaian perayaan pada Juni 2026.
Rangkaian dimulai dari Hari Penampahan Galungan pada Selasa, 16 Juni 2026, dilanjutkan Hari Raya Galungan pada Rabu, 17 Juni 2026, dan diakhiri Hari Umanis Galungan pada Kamis, 18 Juni 2026.
Asal-usul perayaan ini sudah ada di seluruh wilayah Indonesia sebelum populer di Bali.
Menurut data Pemerintah Kabupaten Buleleng, kata Galungan berasal dari bahasa Jawa yang berarti bertarung, sementara Dungulan bermakna menang.
Secara filosofis, Galungan mengajarkan umat untuk berpegang teguh pada kebenaran dan keadilan.
Momen ini juga menjadi pengingat untuk mengendalikan hawa nafsu, mengontrol sifat buruk, serta hidup harmonis sebagai wujud syukur kepada Sang Hyang Widhi dan Dewa Bhatara.
Umat Hindu percaya bahwa pada hari suci ini para leluhur turun ke bumi. Kedatangan mereka diyakini memberikan berkat serta perlindungan kepada seluruh keturunan.
>>> Tim Cook Peringatkan Kenaikan Harga Perangkat Elektronik Tak Terhindarkan
Catatan Sejarah dalam Lontar Purana Bali Dwipa
Berdasarkan Lontar Purana Bali Dwipa, Hari Raya Galungan pertama kali dirayakan pada Purnama Kapat tahun 882 Masehi atau 804 Saka.
Perayaan berlangsung pada Rabu Kliwon, Wuku Dungulan, tanggal 15 Sasih Kapat, yang menggambarkan Pulau Bali tampak indah seperti Indra Loka.
Peringatan ini untuk mengenang kemenangan Ida Batara, dewa kebaikan, saat bertempur melawan raksasa Mahayena yang berniat merusak bumi.
Pertempuran ini menjadi simbol abadi kemenangan kebaikan atas kejahatan.
Satu elemen identik dengan Galungan adalah pemasangan penjor, bambu yang dihias dengan tradisi khas Bali di sepanjang jalan.
Pemasangan penjor di setiap rumah merupakan aturan adat sebagai bentuk persembahan kepada Bhatara Mahadewa.
Dalam kalender Masehi, Galungan dan Kuningan dirayakan dua kali setahun dengan jarak 10 hari.
>>> Samsung Konfirmasi Pengembangan Exynos 2700, Isyaratkan untuk Galaxy S27
Galungan selalu jatuh pada hari Rabu di Wuku Dungulan, sedangkan Kuningan diperingati setiap hari Sabtu di Wuku Kuningan.
Update Terbaru
Mazda Beralih ke Layar Sentuh untuk Kontrol AC CX-5, Ini Alasannya
Kamis / 18-06-2026, 22:36 WIB
Oldsmobile Hurst/Olds 1984 dengan Tiga Tuas Transmisi Otomatis
Kamis / 18-06-2026, 22:36 WIB
Ducati Indonesia Luncurkan DesertX V2 dan Buka Showroom Baru di Jakarta
Kamis / 18-06-2026, 22:35 WIB
Sembilan Tim Lolos ke Grand Final FFNS 2026 Fall
Kamis / 18-06-2026, 22:35 WIB
Bank Indonesia Perpanjang Relaksasi Kartu Kredit hingga Akhir 2026
Kamis / 18-06-2026, 22:35 WIB
Pemilik Mobil Jarak Tempuh Tinggi Perlu Waspadai Overhaul Mesin
Kamis / 18-06-2026, 22:35 WIB
MCI Proyeksikan Rasio BOPO Modal Ventura Turun Gradual
Kamis / 18-06-2026, 22:35 WIB
Prabowo Minta Himbara Tak Hanya Kejar Laba, tapi Hadir untuk Rakyat
Kamis / 18-06-2026, 22:35 WIB
Cara Cek Bansos PKH dan BPNT Tahap 2 2026 via NIK KTP
Kamis / 18-06-2026, 22:32 WIB
Bank Indonesia Naikkan Batas Pendanaan Luar Negeri Perbankan Jadi 40 Persen
Kamis / 18-06-2026, 22:32 WIB
Anthropic Integrasikan Claude Design dan Claude Code untuk Permudah Pengguna
Kamis / 18-06-2026, 22:32 WIB
Thierry Henry Kritik Penampilan Egois Cristiano Ronaldo Lawan RD Kongo
Kamis / 18-06-2026, 22:32 WIB
Masyarakat Adat Nabire Serahkan 50 Hektare Lahan untuk TNI AD
Kamis / 18-06-2026, 22:32 WIB
Camara: Ketenangan Jadi Kunci Hornbills Hadapi Pelita Jaya di Final IBL
Kamis / 18-06-2026, 22:32 WIB






