Umat Hindu di Bali masih terlihat memadati Pura Agung Jagatnatha Denpasar pada malam Hari Raya Galungan, Rabu (17/6/2026).

Pemangku sekaligus Pemimpin Pura Agung Jagatnatha Denpasar Ida Bagus Saskara mengatakan sejak pagi banyak masyarakat datang bersembahyang, namun jumlahnya meningkat signifikan mulai pukul 20.00 WITA.

>>> Pemprov dan DPRD Jateng Siapkan Regulasi Perlindungan Pekerja Informal

Pria yang akrab disapa Tuaji Mangku itu menjelaskan umat Hindu biasanya datang ke pura yang berperan sebagai Kahyangan Jagat setelah menyelesaikan persembahyangan di berbagai pura lainnya.

Bagi warga yang tinggal di Kota Denpasar atau tidak banyak bersembahyang keliling, mereka cenderung datang ke Pura Agung Jagatnatha pada siang hari.

Sementara itu, umat yang memiliki banyak pura keluarga atau harus pulang ke kampung halaman biasanya baru bisa datang pada malam hari.

Tuaji Mangku merinci urutan persembahyangan umat Hindu saat Galungan: pertama di rumah pribadi memuja leluhur, kemudian ke pura kawitan, lalu ke Pura Kahyangan Tiga, dan terakhir ke Pura Agung Jagatnatha sebagai Pura Kahyangan Jagat.

Ada pula umat yang setelah dari Pura Kahyangan Tiga pulang kampung ke daerah seperti Gianyar, Klungkung, atau Tabanan, lalu kembali lagi sore hari dan baru bersembahyang di Pura Agung Jagatnatha pada malam hari.

Suasana malam di pura juga dimeriahkan oleh kehadiran remaja dan anak-anak yang melakukan tradisi Ngelawang atau pertunjukan Barong Bangkung, sehingga kawasan pura tak pernah sepi.

Menurut Tuaji Mangku, sekitar seribuan orang hadir pada malam itu, dan biasanya mulai berkurang setelah pukul 24.00 WITA.

>>> Ahli: Paradigma Pertahanan Negara Alami Transformasi Besar

Ia menambahkan antusiasme umat Hindu sesuai dengan makna Hari Raya Galungan sebagai momentum kemenangan dharma melawan adharma.