Pemilihan pura yang didatangi pun tidak sembarangan, melainkan sesuai dengan sumber sastra Lontar Sundarigama karya Ida Betara Danghyang Nirartha.

Tuaji Mangku menuturkan momen Galungan sangat baik untuk memuja para leluhur, memohon kerahayuan, kerukunan, dan keharmonisan, lalu berdoa di pura yang lebih besar seperti Pura Kahyangan Jagat agar diberi kerahayuan di jagat.

Pada Hari Raya Galungan ini, tiga pemangku bergantian memimpin persembahyangan, yaitu Ida Bagus Saskara, Pande Nyoman Dharma, dan Nyoman Sudarma.

Salah satu pemedek, Nyoman Ayu Trisna (26), mengaku terbiasa bersembahyang di malam hari setiap Galungan.

Selain karena baru selesai bersembahyang di pura lain, waktu malam membuatnya lebih tenang dan bisa berkumpul dengan teman-teman sebayanya setelah seharian bersama keluarga.

>>> RD Kongo Tahan Imbang Portugal di Laga Pembuka Piala Dunia 2026

"Memang ke Jagatnatha selalu malam karena pagi sampai siang sama keluarga, sore istirahat, malam sembahyang lagi khusus sama teman-teman banjar, jadi tidak kejar-kejaran, pulangnya juga bisa sekalian makan bersama," ujarnya.