Ahli Geopolitik dan Media, Yusuf R. Hakim, menyatakan bahwa paradigma pertahanan negara telah mengalami pergeseran dan transformasi yang sangat besar.

"Jika pada masa lalu kekuatan negara ditentukan oleh penguasaan wilayah darat, laut, dan udara, kini dunia memasuki era baru di mana ruang siber menjadi medan strategis yang menentukan," kata Yusuf dalam Diskusi Publik bertajuk Perkembangan Dinamika Global dan Nasional dari Berbagai Perspektif di Kota Malang, Jawa Timur, Rabu malam.

>>> RD Kongo Tahan Imbang Portugal di Laga Pembuka Piala Dunia 2026

Ia menjelaskan bahwa negara modern saat ini sudah bergerak menguasai dunia siber. Muncul karakter keempat sebagai matra baru yang sangat menentukan, yaitu media massa dan dunia digital.

"Ancaman utama kita hari ini justru diawali dari sektor geo-ekonomi, bukan militer langsung," tuturnya.

Menurut Yusuf, perang modern tidak selalu hadir dalam bentuk serangan bersenjata.

Penguasaan informasi, manipulasi opini publik, hingga penyebaran disinformasi menjadi instrumen baru yang mampu mempengaruhi stabilitas sosial dan politik suatu negara.

Dominasi media arus utama sebagai sumber informasi utama masyarakat mulai bergeser.

Berdasarkan berbagai tren yang berkembang, sekitar 70 persen masyarakat saat ini lebih banyak mengonsumsi informasi melalui media sosial.

Ia mengatakan kondisi tersebut menghadirkan tantangan serius karena algoritma digital mampu membentuk polarisasi masyarakat secara sistematis.

Yusuf mencontohkan fenomena politik yang pernah berkembang di Indonesia dengan munculnya label-label tertentu yang kemudian terus dipelihara oleh sistem algoritma media sosial.

"Algoritma ini menyaring dan mengategorikan masyarakat untuk mempermudah penyampaian pesan tertentu.

Bahayanya, kemarahan dan sentimen negatif sengaja diolah serta diproduksi di dunia maya, lalu ditarik ke dalam kehidupan nyata.