Peneliti Temukan Dua Subtipe Autisme Berdasarkan Konektivitas Otak
Variasi manifestasi autisme kini mulai menemukan penjelasan biologis yang jelas.
Penelitian terbaru dari tim ilmuwan internasional berhasil mengidentifikasi dua subtipe autisme berdasarkan pola konektivitas otak manusia dan tikus.
>>> Saham Emiten Properti Lesu, IDX Properties Terkoreksi 36,08% Sepanjang 2026
Penemuan ini diharapkan dapat mengubah metode penanganan penderita. Langkah ini dilakukan untuk menggeser pendekatan penanganan yang selama ini dinilai cenderung seragam atau tidak spesifik.
Dikutip dari Medcom melalui Science Alert pada Kamis, 18 Juni 2026, perbedaan biologis penderita kini mulai terpetakan. Karakteristik yang beragam tersebut ternyata mencerminkan jalur mekanistik yang berbeda.
"Selama beberapa dekade, kami telah mengamati variasi yang luar biasa dalam cara autisme bermanifestasi, tetapi kami tidak memiliki bukti langsung bahwa perbedaan-perbedaan ini mencerminkan biologi yang berbeda di baliknya," kata ahli neurosains dari Institut Teknologi Italia, Alessandro Gozzi.
"Pendekatan kami memungkinkan kami untuk mengisolasi faktor genetik dan imun yang spesifik, lalu menerjemahkan tanda-tanda tersebut ke dalam pemindaian otak manusia, dan menunjukkan bahwa pola konektivitas yang berbeda mencerminkan jalur mekanistik yang berbeda pula sebagai dasar dari autisme."
Para ilmuwan memeriksa data pemindaian otak dari 940 anak-anak serta dewasa muda dengan autisme. Data tersebut dibandingkan dengan pemindaian milik 1.036 individu neurotipis.
Selain manusia, riset ini melibatkan tikus percobaan dengan 20 model karakteristik otak mirip autisme. Dari pemeriksaan mendalam tersebut, tim riset mendeteksi dua kelompok pola konektivitas yang kontras.
Hipokonektivitas dan Hiperkonektivitas
Kelompok pertama diidentifikasi sebagai kelompok hipokonektivitas. Pada kategori ini, penderita mengalami penurunan atau berkurangnya konektivitas di dalam jaringan otak mereka.
Aktivitas otak kategori hipokonektivitas berkaitan dengan gen yang mengatur persimpangan sinaps. Bagian ini merupakan titik penting yang menghubungkan komunikasi antar sel otak.
Update Terbaru
BGN Kaji Klasterisasi Dapur Program Makan Bergizi Gratis
Kamis / 18-06-2026, 20:29 WIB
Yann LeCun Kritik xAI Milik Elon Musk: Gagal Bersaing dan Hadapi Krisis Finansial
Kamis / 18-06-2026, 20:29 WIB
Bank Indonesia Waspadai Lonjakan Inflasi Pangan Akibat El Nino
Kamis / 18-06-2026, 20:28 WIB
Blue Bird Bagikan Dividen Rp166 per Saham, Yield 10%
Kamis / 18-06-2026, 20:28 WIB
Anggota DPR: Tambahan Anggaran APH Harus Bermanfaat bagi Rakyat
Kamis / 18-06-2026, 20:28 WIB
Kemkomdigi Ungkap Lima Pilar Strategis Hadapi Disinformasi Berbasis AI
Kamis / 18-06-2026, 20:28 WIB
Aceh Jemput 10 ODGJ yang Dipasung untuk Mendapatkan Perawatan
Kamis / 18-06-2026, 20:28 WIB
Brimob Polda Sulteng Bersihkan Puing dan Sediakan Air Bersih untuk Korban Gempa Sigi
Kamis / 18-06-2026, 20:28 WIB
Bank Indonesia Waspadai Lonjakan Inflasi Pangan Akibat El Nino
Kamis / 18-06-2026, 20:25 WIB
Jasa Marga Masifkan Preservasi Jalan Tol Jelang Libur Sekolah 2026
Kamis / 18-06-2026, 20:25 WIB
Pemain Lokal Pelita Jaya Tak Gentar Hadapi Pebasket Asing Hornbills
Kamis / 18-06-2026, 20:24 WIB
OJK Minta Direksi BEI Terpilih Beri Kinerja Terbaik untuk Pasar Modal
Kamis / 18-06-2026, 20:24 WIB
Sony Sonjaya Bungkam Usai Diperiksa Kejagung Selama 9 Jam
Kamis / 18-06-2026, 20:24 WIB
Mendagri: Infrastruktur Permanen Jadi Prioritas Pemulihan Pascabencana Sumatera
Kamis / 18-06-2026, 20:24 WIB






