Kinerja saham emiten properti masih lesu sejak awal tahun 2026.

Indeks IDX Properties and Real Estate tercatat terkoreksi 36,08% secara year to date (YTD) pada akhir perdagangan Kamis (18/6/2026).

>>> MPMRent Tambah 50 Unit Wuling New BinguoEV Lite untuk Armada Korporasi

Capaian tersebut menjadi yang paling rendah di antara indeks sektoral lainnya. Sebagai perbandingan, pada akhir 2025 indeks properti justru melonjak 54,98% YTD.

Dalam tiga tahun terakhir, kenaikan indeks ini mencapai 64,91%. Namun, saham sejumlah emiten properti besar justru tak bergerak positif bahkan sejak tiga tahun belakangan.

Kinerja Saham Emiten Properti Besar

Berdasarkan data RTI, saham PT Summarecon Agung Tbk (SMRA) turun 20,42% YTD dan terkoreksi 46,67% dalam tiga tahun terakhir.

Saham PT Ciputra Development Tbk (CTRA) turun 31,93% YTD dan turun 39,57% dalam tiga tahun.

Saham PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) turun 34,25% YTD dan minus 36,70% dalam tiga tahun.

PT Pakuwon Jati Tbk (PWON) turun 23,67% YTD dan terkoreksi 43,91% selama tiga tahun.

Penyebab Lesunya Saham Properti

Investment Analyst Infovesta Kapital Advisori, Ester Mulyani mengatakan, longsornya kinerja saham properti di 2026 merupakan pembalikan dari euforia 2025.

Saat itu, BI memangkas suku bunga sebanyak lima kali hingga ke level 4,75%.

Lonjakan indeks tahun 2025 banyak digerakkan saham spekulatif dengan free float kecil dan likuiditas tipis, seperti PT Trimitra Prawara Goldland Tbk (ATAP) dan PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA).

Artinya, penyetir indeks bukan emiten berfundamental kuat.

Ester menambahkan, saham spekulatif itu justru menjadi yang terkoreksi paling dalam sepanjang 2026.

Hal ini dipicu tertekannya IHSG akibat freeze indeks MSCI, pelemahan rupiah yang sempat tembus Rp 18.000 per dolar AS, perang AS-Iran, dan kenaikan bunga BI.