Sentimen positif di 2026 bisa berasal dari kebijakan PPN DTP 100% sampai 2027 dan valuasi murah.

Sedangkan sentimen negatif adalah beban bunga yang menggerus laba, pelemahan daya beli masyarakat menengah-bawah, dan risiko outflow asing.

David melihat, pasca kenaikan suku bunga ke 5,75%, sektor kawasan industri tetap solid ditopang tingginya permintaan lahan untuk data center, logistik EV, dan relokasi pabrik.

Pelemahan rupiah justru menguntungkan emiten properti sektor kawasan industri karena pendapatan sewa dari penyewa asing berbasis dolar AS.

Kenaikan suku bunga BI lebih menahan laju KPR residensial dalam jangka pendek. Namun, investasi asing (PMA) di kawasan industri minim dampak karena menggunakan pendanaan global.

Wafi menuturkan, dengan BI Rate di 5,75%, tekanan pada emiten dengan utang tinggi semakin besar, beban bunga naik, permintaan KPR tertekan.

Relief rally jangka pendek masih mungkin karena harga saham sudah priced in, tetapi rerating butuh bukti raihan marketing sales dan penyerapan KPR.

Sentimen positif bisa dari insentif PPN DTP dan pipeline proyek di kuartal II. Sementara sentimen negatif berasal dari rupiah lemah dan foreign outflow yang berlanjut.

Rekomendasi Analis

Wafi menyarankan investor memilih emiten properti dengan recurring income kuat dan DER terkontrol, serta menghindari pure-play residential dengan DER kurang dari 2x.

David merekomendasikan beli untuk PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA).

Ester melihat, saham KIJA masih menarik untuk dicermati di sektor properti pada era suku bunga tinggi karena bertumpu pada permintaan industri, bukan residensial.

Dari valuasi, saham KIJA tergolong paling menarik dengan PER di bawah 10 kali dan PBV di bawah 1 kali.

>>> Menlu Sugiono Dorong Kerja Sama Nuklir RI-Rusia untuk Ketahanan Energi

Ester memperkirakan, saham KIJA berpotensi melanjutkan penguatan menuju area Rp 220 - Rp 230 per saham, dengan target harga jangka menengah di kisaran Rp 250 - Rp 260 per saham.