Bank Indonesia (BI) telah menaikkan suku bunga sebanyak tiga kali hingga ke level 5,75% di Juni 2026.

Pemberat utama IDXPROPERT tahun ini adalah saham PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI) dan PT Bangun Kosambi Sukses Tbk (CBDK) karena bobot kapitalisasinya mendominasi indeks.

Sementara, saham emiten properti berfundamental bagus cenderung "diam" selama tiga tahun terakhir akibat de-rating struktural sejak 2020.

Pasar mendiskon ketidakpastian monetisasi land bank, ditambah bunga tinggi dan daya beli yang lemah.

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), David Kurniawan mengatakan, penurunan saham sektor properti dipicu aksi rotasi modal asing dan tekanan kurs rupiah yang melemah ke Rp 17.762 per dolar AS.

Sentimen pemberatnya adalah emiten dengan beban utang obligasi valas tinggi serta risiko restrukturisasi utang.

Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi menambahkan, IDX Properties turun sejak awal tahun karena sentiment-driven dan koreksi teknikal setelah rally di awal tahun.

>>> OJK Batasi Kepemilikan Asing PVML Maksimal 85 Persen

Sentimen pemberat berasal dari debt to equity ratio (DER) tinggi, discount to NAV melebar, dan katalis re-rating yang belum muncul.

Menurut Wafi, pemberat indeks tahun ini berasal dari saham BSDE, CTRA, dan SMRA.

Dampak Suku Bunga dan Prospek ke Depan

Ester berpandangan, naiknya suku bunga BI ke 5,75% berimplikasi negatif jangka pendek karena menegaskan suku bunga tinggi lebih lama.

Masyarakat akan menahan mengambil KPR dan perbankan semakin ketat memberikan pembiayaan.

Jika BI menahan atau memangkas suku bunga pada RDG Juni 2026, sentimen ke emiten properti mungkin lebih positif.

Valuasi sektor properti masih murah sehingga risk-reward atraktif, tetapi rerating berkelanjutan kemungkinan baru terjadi bila bunga berbalik turun dan daya beli pulih.