Menteri Luar Negeri Sugiono mendorong kerja sama pemanfaatan teknologi nuklir dengan Rusia guna mempercepat target swasembada energi nasional dalam tiga tahun ke depan.

Dalam KTT peringatan 35 tahun kemitraan ASEAN-Rusia di Kazan, Sugiono menegaskan komitmen Indonesia untuk mengembangkan energi terbarukan melalui eksplorasi berbagai opsi teknologi yang aman.

>>> Pelita Jaya Jakarta Waspadai Tiga Pemain Asing Bogor Hornbills di Final IBL

"Pengalaman luas yang dimiliki Rusia di bidang ini menjadi landasan kuat untuk membangun kerja sama," kata Sugiono dalam pernyataan yang dirilis Kementerian Luar Negeri RI, Kamis.

Indonesia menekankan bahwa kerja sama tersebut harus mencakup alih teknologi, pengembangan kapasitas sumber daya manusia, dan penerapan standar keselamatan internasional tertinggi.

Penguatan Kemitraan ASEAN-Rusia

Di tingkat regional, Menlu RI mendorong penguatan kemitraan strategis ASEAN-Rusia untuk menghadapi fragmentasi rantai pasok global.

Menurut dia, stabilitas pasokan energi dan pangan sangat krusial untuk melindungi 670 juta penduduk Asia Tenggara dari dampak guncangan eksternal.

Rusia, sebagai salah satu produsen energi, gandum, dan pupuk terbesar di dunia, dinilai memiliki peran strategis dalam memastikan rantai pasok ke ASEAN berjalan stabil.

"Tujuan kami jelas, untuk melindungi sistem pangan kami dari gangguan eksternal. Karena akses terhadap pangan yang terjangkau dan bergizi harus dapat dijangkau setiap rumah tangga," tutur Sugiono.

Ia menambahkan bahwa penguatan konektivitas ekonomi antarkawasan ASEAN dan Eurasia juga perlu terus didorong untuk menciptakan peluang pertumbuhan baru yang inklusif.

Indonesia menyambut baik diadopsinya Deklarasi Kazan yang dinilai sejalan dengan Pandangan ASEAN tentang Indo-Pasifik (AOIP), terutama dalam mengedepankan prinsip sentralitas ASEAN.

Menlu Sugiono juga menyambut positif penandatanganan Nota Kesepahaman de-eskalasi konflik antara AS dan Iran sebagai bukti keberhasilan jalur dialog.