Staf Ahli Menteri Komunikasi dan Digital Bidang Komunikasi Publik dan Massa (KPM) Molly Prabawaty mengungkapkan lima pilar strategis yang perlu dikerjakan secara kolektif untuk menghadapi ancaman disinformasi yang dipicu pertumbuhannya oleh kecerdasan artifisial (AI).

Molly mengemukakan di Indonesia saja menurut temuan studi dari Engage Media pada 2026 menunjukkan adanya peningkatan 43 persen konten disinformasi sepanjang 2020-2023 di platform-platform media sosial dan salah satu penyebab kenaikan itu adalah algoritma pencarian AI.

>>> Aceh Jemput 10 ODGJ yang Dipasung untuk Mendapatkan Perawatan

"Skala dan kompleksitas disinformasi berbasis AI menuntut respons multi-pihak yang komprehensif.

Tidak ada satu entitas baik itu pemerintah, platform teknologi, komunitas masyarakat, ataupun kalangan akademis dapat mengatasi masalah ini sendirian," kata Molly dalam acara yang diselenggarakan MASTEL bersama BBC Media Action bertajuk “Building Healthy Information Environments: Collaborative Responses to Disinformation in the Digital Age” di Jakarta, Kamis.

Lima Pilar Strategis

Membahas pilar-pilar tersebut secara rinci untuk menangani disinformasi berbasis AI, Molly mengatakan pilar pertama yang harus dikerjakan adalah meningkatkan literasi digital dan kemampuan berpikir kritis.

Menurutnya, membekali warga negara dengan keterampilan untuk memilah informasi yang kredibel dari kebohongan adalah hal yang paling utama.

"Kampanye edukasi untuk peningkatan kesadaran publik dinilai sangat krusial untuk membangun ketahanan masyarakat terhadap konten disinformasi," kata Molly.

Pilar kedua yang dikemukakan oleh Molly ialah mendorong pengembangan AI yang bertanggung jawab.

Kemkomdigi mendorong pengembangan dan penggunaan AI yang etis, memastikan teknologi ini dirancang dengan pagar pengaman terhadap penyalahgunaan disinformasi, termasuk mengeksplorasi mekanisme verifikasi keaslian konten.

>>> Brimob Polda Sulteng Bersihkan Puing dan Sediakan Air Bersih untuk Korban Gempa Sigi